Arema FC Gencar Perkuat Belakang: Bek Brasil Diego Landis Dijanjikan Bawa Soliditas Baru di Super League 2026/27

Olahraga
Eka SaputraEka Saputra
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Arema FC Gencar Perkuat Belakang: Bek Brasil Diego Landis Dijanjikan Bawa Soliditas Baru di Super League 2026/27
BAGIKAN:

Malang, Jawa Timur – Arema FC resmi menandatangani bek tengah asal Brasil, Diego Luiz Landis, sebagai upaya terakhir memperkuat lini pertahanan menjelang kompetisi Super League 2026/27. Pengumuman ini disampaikan oleh General Manager Arema, Yusrinal Fitriandi, dalam konferensi pers di Kota Malang pada Jumat (10/7/2026).

"Kami menyambut Diego sebagai bagian dari keluarga besar Arema FC. Karakter bermainnya cocok dengan kebutuhan taktis tim," ujar Yusrinal dalam keterangan resmi. Ia menambahkan bahwa manajemen menaruh harapan tinggi pada pemain berusia 28 tahun ini, yang memiliki pengalaman lintas negara di Asia Tenggara.

Diego Landis, lahir 3 Mei 1998, menempati posisi bek tengah dengan tinggi 1,93 meter. Kariernya dimulai di akademi São Paulo U‑17, sebelum melangkah ke FC Porto (Portugal) pada 2018‑2020, di mana ia mengasah kemampuan teknis dan taktis di lingkungan Eropa. Pada 2022, ia menandatangani kontrak dengan Chiangrai United (Thailand) dan bertahan di sana hingga 2024. Setelah itu, ia pindah ke Khon Kaen United selama satu musim, lalu melanjutkan karier di Terengganu FC (Malaysia) pada 2025‑2026 sebelum akhirnya menyeberang ke Arema.

Pengalaman Diego di liga Thailand dan Malaysia membuatnya terbiasa dengan kecepatan dan fisik permainan Asia Tenggara. Manajemen Arema menilai keunggulannya terletak pada duel udara, disiplin defensif, serta ketenangan dalam memulai serangan dari belakang. Semua kualitas ini, kata Yusrinal, sangat dibutuhkan untuk menutup celah pertahanan yang selama ini menjadi titik lemah tim.

Rekrutmen ini menandai bek senior ketiga yang diangkat Arema dalam satu musim, menyusul Robi Darwis dan Alfeandra Dewangga yang masing‑masing datang dari Persib Bandung. Selain itu, klub juga berhasil mempertahankan pemain veteran seperti Hansamu Yama Pranata, Alfarizie, Julian Gueveara, Matheus Blade, Betinho, serta bek muda Achmad Maulana.

Dengan tambahan Diego, Arema berharap dapat menstabilkan lini belakang, mengurangi kebobolan, dan memberi ruang bagi gelandang kreatif untuk beroperasi lebih leluasa. "Kami berharap Diego dapat beradaptasi cepat dan memberikan kontribusi maksimal," tutup Yusrinal.

Analisis Pakar

Sebagai seorang jurnalis investigasi yang telah mengamati dinamika transfer di liga domestik selama lebih dari satu dekade, saya melihat langkah Arema ini sebagai strategi jangka pendek yang berisiko tinggi. Memang, profil Diego Landis tampak menggiurkan: tinggi, berpengalaman di luar negeri, dan terbiasa dengan tekanan kompetisi Asia. Namun, catatan performanya di Thailand dan Malaysia menunjukkan bahwa ia belum pernah menjadi pilar pertahanan yang tak tergoyahkan. Statistik duel udara dan intersepsi di dua liga tersebut berada di atas rata‑rata, tetapi angka kesalahan defensifnya masih cukup signifikan.

Selain itu, Arema kini menumpuk tiga bek senior dalam satu skuad, yang dapat menimbulkan persaingan internal dan mengganggu kohesi lini belakang. Jika tidak dikelola dengan hati‑hati, situasi ini dapat berujung pada fragmentasi taktik, terutama mengingat pelatih masih mencari formasi ideal untuk mengoptimalkan kecepatan sayap dan kreativitas gelandang. Pengalaman Diego di Eropa memang memberi nilai tambah, namun adaptasi kembali ke taktik Indonesia—yang menuntut transisi cepat dan pressing tinggi—bisa menjadi tantangan tersendiri.

Di sisi lain, kehadiran pemain berpengalaman seperti Hansamu Yama Pranata dapat menjadi mentor bagi Diego, membantu mempercepat proses aklimatisasi. Jika Arema mampu memanfaatkan kombinasi antara veteran lokal dan bek asing ini, mereka berpotensi membentuk blok pertahanan tiga‑bintang yang solid, mengurangi kebobolan, dan memberi kepercayaan diri pada lini serang.

Prediksi saya, dalam 10 pertandingan pertama Liga Super 2026/27, Arema akan mengalami fase penyesuaian dengan rata‑rata kebobolan sekitar 1,4 gol per laga. Namun, bila Diego dapat menyesuaikan diri dalam tiga hingga empat pertandingan, angka tersebut dapat turun menjadi di bawah satu gol per laga, yang pada gilirannya meningkatkan peluang Arema untuk bersaing di papan atas. Kunci keberhasilan terletak pada manajemen rotasi pemain dan penyesuaian taktik defensif yang fleksibel, bukan sekadar menambah nama pada daftar pemain.