Prestasi Menembak TNI AD di Australia: Antara Kebanggaan Nasional dan Politik Panggung Presiden

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Prestasi Menembak TNI AD di Australia: Antara Kebanggaan Nasional dan Politik Panggung Presiden
BAGIKAN:

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menonjolkan pencapaian militer dalam pidatonya pada peluncuran serentak lima bendungan baru di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7). Ia memuji kontingen TNI Angkatan Darat yang berhasil meraih gelar juara Australian Army Skills at Arms Meeting (AASAM) selama 13 kali berturut‑turut, menandakan dominasi Indonesia dalam kompetisi menembak multinasional selama lebih dari dua dekade.

Kompetisi AASAM, yang diselenggarakan setiap dua tahun di Puckapunyal Military Range, Victoria, Australia, mempertemukan pasukan menembak terbaik dari negara‑negara seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang, Vietnam, Malaysia, dan Singapura. Sejak 2008, kontingen Indonesia tidak pernah absen dari podium, mengukir rekor 13 gelar juara umum yang menegaskan posisi TNI AD sebagai "tentara terbaik di dunia" dalam bidang ini.

Prabowo menekankan bahwa keberhasilan ini bukan sekadar kebetulan. Ia menyoroti tiga pilar utama: latihan intensif, perlengkapan modern, dan dukungan gizi yang terjamin. Menurutnya, prajurit yang berasal dari latar belakang petani – bukan anak orang kaya – mampu bersaing di level internasional karena tidak ada korupsi dalam alokasi anggaran, peralatan yang tepat, serta kepemimpinan komandan yang kompeten.

Menariknya, kontingen Indonesia menggunakan senjata buatan dalam negeri, yakni produk PT Pindad seperti Karaben SS2 V2 Heavy Barrel, Senapan SS2 V4 Heavy Barrel, dan amunisinya. Keberhasilan ini sekaligus menjadi ajang promosi bagi industri pertahanan nasional, menegaskan bahwa "Made in Indonesia" dapat bersaing di panggung Asia‑Pasifik.

Analisis Pakar

Prestasi menembak TNI AD memang patut diapresiasi, namun tidak dapat dipisahkan dari konteks politik yang lebih luas. Presiden Prabowo, yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerindra, memanfaatkan momen kebanggaan militer untuk memperkuat citra kepemimpinan yang "pro‑militer". Di tengah dinamika politik nasional, di mana isu reformasi pertahanan dan alokasi anggaran menjadi perdebatan sengit, sorotan pada keberhasilan AASAM berfungsi sebagai alat legitimasi politik.

Selain itu, penekanan pada "tidak ada korupsi" dalam pengadaan perlengkapan menimbulkan pertanyaan kritis. Meskipun tidak ada bukti publik yang menunjukkan penyalahgunaan dana dalam program ini, sejarah panjang TNI dalam hal transparansi anggaran tetap menjadi sorotan. Apakah keberhasilan ini memang mencerminkan reformasi struktural atau sekadar contoh kasus yang dipilih secara selektif untuk menutupi masalah yang lebih mendalam?

Penggunaan senjata buatan PT Pindad juga menimbulkan diskusi tentang kemandirian industri pertahanan. Di satu sisi, pencapaian ini memperlihatkan kemampuan domestik yang dapat mengurangi ketergantungan pada impor. Di sisi lain, kualitas dan daya saing produk Pindad di pasar internasional masih perlu dibuktikan secara konsisten, bukan hanya melalui satu kompetisi.

Ke depan, jika pemerintah ingin memanfaatkan prestasi ini sebagai pendorong kebijakan pertahanan yang lebih transparan dan akuntabel, diperlukan langkah konkret: audit independen atas anggaran militer, peningkatan standar akreditasi industri pertahanan, serta pembukaan ruang bagi partisipasi publik dalam pengawasan. Tanpa itu, pujian atas juara menembak dapat berakhir menjadi retorika politik semata, alih-alih menjadi katalis perubahan struktural yang nyata.