Menakar Proyek 'Link and Match' Pemkot Jaktim: Solusi Pengangguran SMK atau Sekadar Seremonial Kedai Kopi?
Siti Rahmawati
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

JAKARTA — Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur kembali memamerkan langkah strategisnya dalam menekan angka pengangguran terdidik melalui sektor pendidikan vokasi. Langkah terbaru ditandai dengan peresmian Teaching Factory (TeFa) bernama "D'Preneur Coffee and Mart" di SMK Dinamika Pembangunan 2 Jakarta, Cakung, Jakarta Timur.
Proyek yang diklaim sebagai jembatan emas antara dunia pendidikan dan industri ini diresmikan langsung oleh Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin. Dalam pidato seremonialnya, Munjirin menegaskan bahwa fasilitas ini bukan sekadar ruang simulasi, melainkan sebuah ekosistem bisnis nyata yang dirancang untuk melatih mentalitas wirausaha dan kesiapan kerja para siswa.
"Keberadaan Teaching Factory ini memberikan pengalaman riil dalam melayani pelanggan, menjaga kualitas produk, hingga manajemen operasional. Kami berharap lulusan SMK Dinamika Pembangunan 2 tidak hanya menjadi pencari kerja yang kompetitif, tetapi juga pencipta lapangan kerja baru yang adaptif," ujar Munjirin di hadapan para undangan.
Program TeFa ini disokong oleh dana stimulus dari Program SMK Pusat Unggulan. Skema ini mengedepankan konsep klasik link and match, yang diwujudkan melalui sinkronisasi kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri, sertifikasi kompetensi standar nasional, serta program magang terstruktur.
Selain fokus pada aspek bisnis, Pemkot Jakarta Timur juga menyelipkan agenda lingkungan dalam peresmian ini. Merujuk pada Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber, pihak sekolah diinstruksikan untuk mengintegrasikan pengelolaan limbah operasional kedai kopi dan ritel mereka secara mandiri guna menekan volume sampah di ibu kota.
Acara peresmian tersebut turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, di antaranya Pimpinan Yayasan Al-Wathoniyah Asshodriyah 9 KH Ahmad Shodri, perwakilan Dinas Pendidikan DKI Jakarta Erni Nawarni, Tenaga Ahli Mitigasi Risiko dan Advokasi Hukum Acep Edy Setiawan, serta jajaran birokrat lokal mulai dari Camat Cakung Rohmad hingga para lurah setempat.
Analisis Tajam Budi Santoso: Retorika 'Link and Match' di Tengah Ancaman Deindustrialisasi
Sebagai jurnalis yang telah mengawal kebijakan publik selama puluhan tahun, saya melihat peresmian Teaching Factory (TeFa) berbasis kedai kopi dan minimarket ini dengan sikap skeptis yang beralasan. Kita harus berani jujur melihat realitas empiris di lapangan: benarkah model kemitraan seperti ini menjawab kebutuhan industri masa depan, ataukah ini hanya sekadar proyek kosmetik untuk memenuhi indikator kinerja utama (IKU) birokrasi pendidikan?
Pertama, mari kita bedah pilihan sektor usahanya: coffee shop dan retail skala kecil (mart). Di tengah gempuran digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), dan otomatisasi industri, mengarahkan siswa SMK—yang digadang-gadang sebagai tulang punggung industri nasional—hanya pada sektor jasa makanan dan ritel konvensional adalah sebuah kemunduran visi. Sektor F&B dan ritel saat ini sudah berada di titik jenuh (oversaturated). Menjejalkan lulusan muda ke dalam ceruk pasar yang sangat padat ini tanpa dibekali keahlian teknologi tinggi (high-tech skills) justru berisiko menjebak mereka dalam lingkaran pekerja berupah rendah (underemployed).
Kedua, ada paradoks besar dalam narasi "menciptakan lapangan kerja" yang kerap didengungkan pejabat publik. Ketika pemerintah mendorong siswa SMK untuk menjadi wirausahawan mandiri melalui modal kedai kopi sekolah, hal ini seolah menjadi pengakuan tidak langsung atas kegagalan negara dalam menyediakan lapangan kerja formal di sektor industri manufaktur. Beban berat pengentasan pengangguran seolah digeser ke pundak remaja usia 17 tahun. Padahal, data BPS secara konsisten menunjukkan bahwa lulusan SMK kerap menyumbang angka pengangguran terbuka (TPT) tertinggi di Indonesia. Mengapa? Karena ada jurang pemisah (mismatch) yang lebar antara apa yang diajarkan di sekolah dengan apa yang dibutuhkan oleh industri manufaktur modern.
Ketiga, efektivitas Program SMK Pusat Unggulan harus diaudit secara transparan. Anggaran negara yang digelontorkan untuk program ini sangat besar. Publik berhak tahu, berapa persen lulusan dari SMK penerima manfaat ini yang benar-benar terserap di industri strategis, dan berapa banyak yang akhirnya terpaksa bekerja di luar bidang keahliannya demi bertahan hidup. Jika link and match hanya berujung pada pengelolaan kedai kopi lokal tanpa adanya transfer teknologi yang signifikan dari korporasi multinasional, maka program ini gagal naik kelas.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak boleh cepat puas dengan seremoni gunting pita. Jika kita ingin menyelamatkan bonus demografi dari bencana pengangguran massal, kurikulum SMK harus dirombak total untuk menyasar industri masa depan: energi terbarukan, analisis data, logistik digital, dan manufaktur presisi tinggi. Kedai kopi sekolah boleh saja ada sebagai unit penunjang, namun jangan pernah menjadikannya sebagai etalase utama dari masa depan pendidikan vokasi kita. Sudah saatnya kita berhenti membuang-buang anggaran untuk program yang hanya terlihat bagus di atas kertas laporan, namun rapuh saat berhadapan dengan realitas pasar kerja global.
BERITA TERKAIT

Menteri Lingkungan Gencarkan “Revegetasi Besar‑Besar” di Tiga Provinsi Rawan Karhutla: Janji Besar atau Sekadar Panggung Politik?
Ahmad Hidayat
Jokowi Hadiri Rumah Duka Rachmat Gobel: Simbol Kepedulian atau Politik Panggung?
Budi Santoso
Baleg Klaim Satu Data Indonesia Bisa Menghemat Ratusan Triliun: Janji Besar atau Hanya Retorika?
Budi Santoso