Disney Moana Live‑Action Angkat Dialek Timur Indonesia: Apresiasi atau Eksploitasi Budaya?
Siti Rahmawati
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Jakarta – Versi live‑action film Disney Moana yang dijadwalkan tayang pada 8 Juli 2026 kini menampilkan lagu Sepanjang Jalan, adaptasi bahasa Indonesia dari Along The The Way. Lagu tersebut diperkaya dengan unsur dialek khas Indonesia Timur, sebuah sentuhan yang diusung oleh penyanyi indie Silet Open Up (Siprianus Bukha) bersama bintang pop Lyodra dan Amora Lemos.
Menurut pernyataan resmi Disney Indonesia, Bukha menambahkan elemen dialek daerah asalnya saat menulis ulang lirik, dengan tujuan “menghadirkan rasa lokal yang otentik”. Ia menegaskan bahwa proses penulisan tidak mengubah makna asli lagu, meski mengakui tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara terjemahan literal dan nuansa budaya.
Cuplikan lirik Sepanjang Jalan menampilkan frasa‑frasa yang dipadukan dengan kata‑kata dalam bahasa daerah, meski teks lengkap belum dipublikasikan secara resmi. Bukha mengaku proses rekaman berlangsung cepat – antara 15 hingga 30 menit – dan menimbulkan kegugupan sekaligus kebanggaan pribadi.
Lagu tersebut kini tersedia di platform streaming utama, sekaligus menjadi bagian dari kampanye Disney untuk menonjolkan talenta lokal. Video musik resmi dijadwalkan rilis di kanal DisneyAsiaMusicVEVO pada 17 Juli, menjelang peluncuran film.
Film Moana mengisahkan petualangan Moana (Catherine Lagaʻaia) yang menembus lautan bersama demigod Maui (Dwayne Johnson) demi memulihkan keseimbangan alam. Disutradarai oleh Thomas Kail, pemenang Emmy dan Tony, film ini diproduksi oleh tim yang mencakup Dwayne Johnson, Beau Flynn, Dany Garcia, Hiram Garcia, serta Lin‑Manuel Miranda.
Analisis Pakar
Penambahan dialek Indonesia Timur dalam soundtrack Disney bukan sekadar langkah estetika; ia menandai dinamika baru dalam industri hiburan global yang semakin mengincar keaslian budaya sebagai nilai jual. Dari satu sisi, kolaborasi ini memberi panggung bagi seniman lokal seperti Siprianus Bukha, membuka peluang eksposur internasional yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun, di balik sorotan positif, muncul pertanyaan kritis: apakah Disney benar‑benar menghormati konteks budaya atau sekadar memanfaatkan keunikan etnis sebagai bumbu komersial?
Sejarah panjang Hollywood dan studio besar lainnya menunjukkan pola “cultural appropriation” – mengadopsi elemen budaya minoritas tanpa memberi kompensasi atau kontrol yang memadai kepada komunitas asal. Dalam kasus Moana, meski Disney menampilkan nama-nama produser lokal dan menekankan kehadiran dialek, tidak ada indikasi bahwa komunitas asal dialek tersebut terlibat dalam proses kreatif secara menyeluruh. Tanpa mekanisme partisipasi yang transparan, risiko penyederhanaan atau distorsi makna budaya tetap mengintai.
Selain itu, strategi pemasaran yang menonjolkan “kebanggaan lokal” dapat berujung pada penciptaan narasi heroik yang menutupi realitas struktural: industri hiburan global masih didominasi oleh kekuatan ekonomi Barat, sementara talenta Indonesia sering kali harus menyesuaikan diri dengan standar produksi luar negeri. Apabila Disney ingin menjadi pionir inklusivitas, ia harus melampaui sekadar menambahkan frasa‑frasa lokal; ia perlu mengakui, melindungi, dan memberdayakan hak cipta serta kepemilikan budaya dari komunitas yang bersangkutan.
Ke depan, keberhasilan Sepanjang Jalan di pasar streaming akan menjadi barometer penting. Jika lagu ini mampu menembus batas komersial dan menjadi titik masuk bagi seniman Indonesia ke panggung internasional, maka kolaborasi ini dapat dianggap sebagai langkah progresif. Namun, jika hanya menjadi gimmick sesaat, maka Disney berisiko menambah daftar panjang studio yang memanfaatkan budaya lokal tanpa memberikan dampak berkelanjutan bagi pemilik budaya asli. Kritik tajam ini seharusnya menjadi panggilan bagi semua pemangku kepentingan – produser, artis, dan regulator – untuk menegakkan standar etika yang lebih ketat dalam setiap adaptasi lintas budaya.
BERITA TERKAIT

Yusril Buka Suara: Perpres 111/2025 Bukan Undang-Undang LGBTQ, Tapi Kebijakan Pertahanan Nasional
Budi Santoso
BPBD Muara Enim Bentuk Posko Siaga Karhutla di Gelumbang: Upaya Darurat atau Sekadar Formalitas?
Siti Rahmawati
Biodiesel B50 Dijanjikan Hemat Devisa Rp170 Triliun: Antara Janji Besar dan Tantangan Nyata
Hendra Gunawan