BRIN Pamer Biodiversitas Indonesia di Expo ORHL 2026: Janji Riset atau Sekadar Panggung Show?

Teknologi
Kevin SanjayaKevin Sanjaya
Kevin Sanjaya
Kevin Sanjaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

BRIN Pamer Biodiversitas Indonesia di Expo ORHL 2026: Janji Riset atau Sekadar Panggung Show?
BAGIKAN:

Jakarta, 9 Juli 2026 – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Expo ORHL 2026 di Cibinong, Bogor, menampilkan 24 etalase yang mengklaim menyoroti kekayaan hayati Indonesia dari Sabang sampai Papua. Acara yang dibuka gratis untuk publik, pelajar, dan akademisi ini diposisikan sebagai panggung utama bagi riset domestik, namun di balik sorotan gemerlap terdapat pertanyaan mendasar tentang substansi, transparansi, dan dampak nyata bagi konservasi serta ekonomi kreatif.

Expo ini menampilkan beragam tema, mulai dari genomik spesies endemik, bioprospecting untuk produk farmasi, hingga teknologi pemantauan ekosistem berbasis satelit. Namun, sebagian besar materi promosi masih berbalut jargon ilmiah tanpa data terperinci yang dapat diverifikasi publik. Tidak sedikit pengunjung yang melaporkan kesulitan memperoleh akses ke laporan lengkap, metodologi, atau bahkan daftar peneliti yang terlibat.

Keberadaan 24 etalase ini memang memberi kesan bahwa Indonesia tengah menempuh langkah signifikan dalam memanfaatkan biodiversitasnya. Namun, kritik dari kalangan ilmuwan independen menyoroti dua hal utama: pertama, kurangnya kolaborasi terbuka dengan institusi internasional yang dapat memperkuat validitas riset; kedua, minimnya mekanisme pengawasan atas potensi konflik kepentingan antara peneliti, industri, dan pemerintah.

Selain itu, eksposur publik yang bersifat "gratis masuk" menimbulkan pertanyaan tentang alokasi dana. Anggaran yang dialokasikan untuk Expo ORHL 2026 belum dipublikasikan secara rinci, sehingga sulit menilai apakah investasi tersebut sebanding dengan manfaat jangka panjang bagi konservasi atau sekadar upaya pencitraan politik.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat Expo ORHL 2026 sebagai cermin ambisi BRIN yang belum sepenuhnya terwujud. Pada satu sisi, menampilkan riset hayati di panggung publik memang penting untuk meningkatkan kesadaran dan menarik investasi. Namun, tanpa transparansi data, publikasi hasil riset yang dapat diakses secara terbuka, dan akuntabilitas keuangan, acara ini berisiko menjadi showcase semata.

Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa keberhasilan program bioprospecting sangat bergantung pada kerangka hukum yang kuat, termasuk perlindungan hak atas pengetahuan tradisional (TKM) dan mekanisme benefit-sharing yang adil. Hingga kini, Indonesia masih berjuang menyempurnakan regulasi tersebut, dan Expo ORHL tampak mengabaikan isu-isu kritis ini. Tanpa jaminan bahwa penemuan-penemuan baru akan menguntungkan komunitas lokal, riset ini berpotensi memperparah ketimpangan ekonomi dan menimbulkan konflik kepemilikan sumber daya alam.

Selanjutnya, eksposur teknologi pemantauan ekosistem yang dipamerkan masih berada pada tahap prototipe. Tanpa dukungan infrastruktur data yang terintegrasi—seperti jaringan sensor di lapangan dan platform data terbuka—potensi inovasi ini tidak akan terwujud menjadi kebijakan berbasis bukti. BRIN perlu mengalihkan fokus dari sekadar memamerkan produk akhir ke pembangunan ekosistem riset yang inklusif, melibatkan universitas, LSM, dan sektor swasta secara seimbang.

Ke depan, saya memperkirakan dua skenario utama. Jika BRIN dapat membuka akses data, memperkuat regulasi benefit-sharing, dan menyiapkan mekanisme audit keuangan yang transparan, Expo ORHL dapat bertransformasi menjadi katalisator inovasi berkelanjutan. Sebaliknya, jika pendekatan "panggung publik" tetap menjadi prioritas utama tanpa reformasi struktural, Indonesia akan terus kehilangan peluang ekonomi dari biodiversitasnya, sekaligus menurunkan kepercayaan internasional terhadap integritas riset domestik.

Pengawasan publik, jurnalistik investigatif, dan partisipasi aktif komunitas ilmiah menjadi kunci untuk memastikan bahwa Expo ORHL 2026 tidak sekadar menjadi acara seremonial, melainkan batu loncatan nyata bagi pengelolaan dan pemanfaatan biodiversitas Indonesia yang berkelanjutan.