Keluarga Korban KM Nurul Salsa Tuntut Polisi Selidiki Dugaan Kelalaian Mesin – Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Keluarga korban KM Nurul Salsa melaporkan dugaan kelalaian mesin kepada Polres Kepulauan Selayar.
- Operasi SAR yang dipimpin Basarnas masih mencari 16 orang yang belum ditemukan setelah 78 penumpang terdaftar.
- Penyidik Satreskrim berjanji menggelar perkara dan mengusut kemungkinan sabotase atau kelalaian teknis.
Kepulauan Selayar, 22 Juli 2026 – Keluarga korban kapal motor Nurul Salsa yang tenggelam pada 15 Juli lalu resmi melaporkan dugaan kelalaian kepada Polres Kepulauan Selayar. Andi Eka Gunarti, ibu dari Naurah (8 tahun) yang hilang bersama kakeknya, Umar, menegaskan bahwa keputusan melaporkan bukan sekadar reaksi emosional, melainkan hasil musyawarah keluarga besar setelah berkonsultasi dengan ahli hukum.
"Setelah berdiskusi dengan seluruh keluarga dan mendapatkan masukan hukum, kami memutuskan untuk mengajukan laporan resmi," ujar paman Naurah, Hasrul, kepada wartawan pada Rabu (22/7). Ia menambahkan bahwa keluarga sempat mengadakan pertemuan internal untuk menyepakati langkah selanjutnya, menegaskan bahwa keberatan mereka bukan sekadar rasa duka, melainkan tuntutan keadilan.
Kapal Nurul Salsa berangkat dari Pulau Jampea pukul 05.00 WITA menuju Pelabuhan Benteng, Pulau Selayar. Sekitar 43 mil laut dari tujuan, mesin kapal mati secara mendadak. Menurut saksi, kapal terombang‑ambing dalam kondisi angin kencang dan gelombang tinggi, lalu terbalik dan karam pada malam harinya.
Keluarga korban menuding adanya kemungkinan sengaja mematikan mesin karena overheat. "Kami mendapat informasi bahwa mesin dimatikan secara sengaja karena suhu berlebih. Itulah mengapa kami menuntut penyelidikan menyeluruh," tegas Hasrul.
Kasubsi Penmas Polres Kepulauan Selayar, Aipda Suardi Andre, mengonfirmasi bahwa laporan telah diterima dan penyidikan sedang berjalan. "Kami sudah memeriksa lebih dari 20 saksi, termasuk nakhoda, ABK, dan korban. Proses hukum sudah dimulai," ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam waktu dekat penyidik akan menggelar perkara dan menentukan apakah kasus dapat dinaikkan ke penyidikan formal serta mengidentifikasi tersangka.
Sementara itu, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang dipimpin Basarnas Makassar terus berlanjut. Direktur Operasi Basarnas, Laksamana TNI Yudhi Bramantyo, memperpanjang operasi tiga hari ke depan karena masih ada 16 penumpang yang belum ditemukan. Tim gabungan SAR kini memusatkan pencarian di Kepulauan Sabalana hingga perairan Nusa Tenggara Barat, mengingat arus laut dapat membawa objek hanyut ke arah tersebut.
Hingga hari kedelapan, dari 78 orang yang tercatat di atas kapal, 59 sudah ditemukan selamat, tiga jenazah telah diidentifikasi, dan 16 orang masih dalam pencarian. Identitas satu jenazah masih belum dapat dipastikan, menunggu hasil verifikasi tim DVI.
Analisis Pakar
Kasus KM Nurul Salsa menyoroti kegagalan sistemik dalam pengawasan keselamatan maritim di wilayah kepulauan. Pertama, prosedur inspeksi mesin sebelum berlayar tampaknya tidak memadai. Overheat yang berujung pada pemadaman mesin di tengah laut bukan sekadar kecelakaan teknis; itu mengindikasikan kurangnya pemeliharaan rutin dan pelatihan kru dalam menangani situasi darurat.
Kedua, respons cepat otoritas kepolisian dan Basarnas patut diapresiasi, namun transparansi masih menjadi pertanyaan. Keluarga menuntut penyelidikan menyeluruh, termasuk kemungkinan sabotase atau kelalaian operator. Tanpa akses publik ke hasil pemeriksaan teknis, spekulasi akan terus menggerogoti kepercayaan publik.
Ketiga, koordinasi antar‑instansi—Polres, Basarnas, dan Dinas Perhubungan—perlu diperkuat. Pada kasus serupa sebelumnya, birokrasi yang berlapis‑lapis memperlambat proses identifikasi korban dan penetapan tanggung jawab. Pendekatan terpadu, misalnya pembentukan tim investigasi khusus yang melibatkan ahli kelautan independen, dapat mempercepat penemuan fakta.
Terakhir, implikasi hukum bagi pihak yang bertanggung jawab harus ditegakkan secara tegas. Jika terbukti bahwa mesin dimatikan secara sengaja atau ada kelalaian dalam pemeliharaan, maka tidak hanya pemilik kapal, tetapi juga otoritas pelabuhan dan regulator harus dimintai pertanggungjawaban. Ini penting untuk memberi efek jera dan mencegah tragedi serupa di masa depan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa penyebab utama tenggelamnya KM Nurul Salsa?
A: Kapal mengalami mati mesin akibat overheat, kemudian terbalik di tengah gelombang tinggi. Keluarga mencurigai adanya tindakan sengaja mematikan mesin. - Q: Berapa orang yang masih belum ditemukan?
A: Sepuluh belas orang, tepatnya 16 penumpang, masih dalam pencarian oleh tim SAR Basarnas. - Q: Apa langkah selanjutnya dari Polres Kepulauan Selayar?
A: Penyidik akan menggelar perkara, melakukan penyidikan formal, dan berpotensi menetapkan tersangka jika bukti kelalaian atau sabotase terbukti.
BERITA TERKAIT

Kredit Perbankan Melonjak 12,67% di Juni 2026: Apa Artinya bagi Bisnis Indonesia?

Iran Tersembunyi: Fasilitas Pengayaan Uranium 100 m di Bawah Pegunungan Pickaxe Jadi Sorotan Global
