Operasi SAR Selayar Diperpanjang 3 Hari: 16 Penumpang Masih Hilang, Apa Penyebab Keterlambatan Penemuan?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Operasi pencarian Basarnas diperpanjang tiga hari setelah hari ketujuh SOP.
- Dari 78 penumpang KM Nurul Salsadi, 59 selamat, 3 meninggal, dan 16 masih belum ditemukan.
- Pencarian kini meluas ke 2.924 mil laut persegi, melibatkan armada militer seperti KRI Marlin-877 dan dukungan udara Lanud Hasanuddin.
Jakarta, 21 Juli 2026 – Kepala Basarnas, Laksamana TNI Yudhi Bramantyo, mengumumkan perpanjangan operasi pencarian korban kapal tenggelam KM Nurul Salsadi di perairan Kepulauan Selayar selama tiga hari ke depan. Keputusan itu diambil setelah operasi memasuki hari ketujuh, meski koordinasi intensif telah dilakukan bersama pemerintah daerah dan unsur Forkopimda.
"Hari ini adalah hari ketujuh sesuai SOP operasi pencarian. Kami sepakat menambah pelaksanaan operasi selama tiga hari ke depan," ujar Laksamana Yudhi dalam konferensi pers Selasa (21/7). Ia menegaskan perpanjangan tersebut karena masih ada 16 penumpang yang belum ditemukan, menambah tekanan pada tim SAR yang harus menyeimbangkan antara kecepatan dan ketelitian.
Hingga kini, total korban yang berhasil diidentifikasi berjumlah 78 orang: 59 selamat, tiga ditemukan meninggal, dan 16 masih menjadi misteri. Pada hari ketujuh, dua korban lagi ditemukan dalam kondisi meninggal – satu di sekitar Pulau Pamulikang pukul 08.45 WITA, dan satu lagi di perairan timur Pulau Sanane Besar pukul 18.00 WITA. Kedua jenazah telah dievakuasi ke KN SAR Kamajaya untuk proses identifikasi oleh DVI Polda Sulsel.
Area pencarian kini diperluas menjadi 2.924 mil laut persegi, dibagi menjadi lima sektor dengan masing‑masing sektor mencakup sekitar 494,5 mil laut. Armada yang terlibat meliputi KRI Marlin-877, KRI Hiu-634, KN SAR Kamajaya, KN SAR Pacitan, KN SAR Puntadewa, serta kapal potensi SAR lainnya. Dukungan udara datang dari Lanud Hasanuddin, menandakan skala operasi yang hampir militeristik.
Para ahli menilai bahwa perpanjangan tiga hari ini bukan sekadar formalitas. Kondisi cuaca yang berubah-ubah, kedalaman laut yang bervariasi, serta kurangnya data posisi terakhir kapal menjadi faktor penghambat utama. Tanpa penambahan waktu dan sumber daya, peluang menemukan sisa korban akan semakin menipis.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat beberapa keganjilan yang belum mendapat sorotan memadai. Pertama, transparansi data posisi KM Nurul Salsadi sebelum tenggelam masih dipertanyakan. Rekaman AIS (Automatic Identification System) yang seharusnya dapat diakses publik belum dipublikasikan secara lengkap, menimbulkan dugaan adanya penundaan dalam penyampaian informasi kritis kepada publik.
Kedua, koordinasi antara Basarnas dan otoritas lokal tampak masih dalam tahap improvisasi. Meskipun Forkopimda terlibat, tidak ada mekanisme resmi yang mengatur alur komando‑kontrol antara unit SAR militer dan sipil. Hal ini berpotensi menimbulkan duplikasi usaha, pemborosan sumber daya, bahkan konflik prioritas di lapangan.
Ketiga, keputusan memperluas area pencarian menjadi hampir 3.000 mil laut tanpa penjelasan rinci mengenai metodologi pemilihan zona menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi. Apakah zona‑zona tersebut dipilih berdasarkan data sonar, laporan saksi, atau sekadar asumsi geografis? Tanpa transparansi metodologis, publik berhak menuntut akuntabilitas atas penggunaan aset negara yang mahal.
Terakhir, peran media dalam mengawasi proses ini harus lebih proaktif. Selama tujuh hari pertama, laporan media cenderung bersifat naratif pasif, menunggu pernyataan resmi. Investigasi independen terhadap faktor penyebab tenggelam – mulai dari kondisi kapal, kepatuhan regulasi keselamatan, hingga potensi overload penumpang – harus segera digali. Hanya dengan mengungkap fakta secara menyeluruh, keluarga korban dapat memperoleh keadilan dan kebijakan keselamatan maritim dapat diperbaiki.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa operasi pencarian harus diperpanjang tiga hari?
A: Karena masih ada 16 penumpang yang belum ditemukan, dan area pencarian yang luas memerlukan waktu tambahan untuk memastikan semua zona tercakup. - Q: Apa saja armada yang terlibat dalam operasi SAR ini?
A: Operasi melibatkan KRI Marlin-877, KRI Hiu-634, KN SAR Kamajaya, KN SAR Pacitan, KN SAR Puntadewa, kapal potensi SAR, serta dukungan udara dari Lanud Hasanuddin. - Q: Bagaimana proses identifikasi jenazah yang ditemukan?
A: Jenazah dievakuasi ke KN SAR Kamajaya, kemudian diserahkan ke DVI Polda Sulsel untuk identifikasi DNA dan verifikasi data korban.
BERITA TERKAIT

Tarif 50% Trump ke Impor Kanada: Guncang Rantai Pasokan & Harga Konsumen

Perpani Siapkan Serangan Ganda: Medali & Tiket Olimpiade di Asian Games 2026!
