Prabowo Kaget: 1.077 BUMN Ditargetkan Dikonsolidasi Jadi 350 pada 2026 – Ini Rencana Pemerintah
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Presiden Prabowo terkejut mengetahui jumlah BUMN mencapai 1.077, jauh di atas perkiraannya (300-350).
- Pemerintah menargetkan pengurangan menjadi maksimal 350 entitas pada akhir 2026 melalui merger, konsolidasi, dan penutupan.
- Penghematan biaya operasional diperkirakan mencapai Rp50 triliun hingga Juli 2024, dengan potensi naik menjadi Rp70-80 triliun jika target tercapai.
Presiden Prabowo Subianto mengaku terkejut setelah menerima laporan bahwa jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai 1.077 entitas, jauh di atas ekspektasi awal yang hanya sekitar 300 hingga 350 perusahaan. Menurutnya, banyak BUMN membentuk anak perusahaan hingga beberapa lapis, sehingga memerlukan evaluasi mendalam.
"Saya mengira jumlah BUMN berkisar antara 300 sampai 350. Ternyata ada yang bikin anak perusahaan, cucu, bahkan cicit perusahaan. Ini harus kita cek lagi," ujar Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat.
Melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, pemerintah telah mengurangi sekitar 250 BUMN sejak Juli 2024. Langkah ini diperkirakan menghasilkan penghematan biaya operasional sebesar Rp50 triliun, dengan potensi meningkat hingga Rp70-80 triliun jika target akhir 2026 tercapai. Prabowo menekankan pentingnya efisiensi agar sumber daya dialihkan ke sektor yang lebih produktif.
Analisis Pakar
Struktur BUMN yang Tidak Efisien: Tantangan Penguatan Ekonomi Makro
Dari perspektif ekonomi makro, jumlah BUMN yang sangat besar (1.077 entitas) mencerminkan ketidakefisienan struktural dalam pengelolaan aset negara. Banyak BUMN membentuk anak perusahaan tanpa alasan bisnis yang jelas, seperti yang disebutkan Prabowo tentang pembentukan 'cicit perusahaan'. Fenomena ini sering terjadi karena budaya politik yang memanfaatkan BUMN sebagai alat untuk distribusi kepentingan, bukan sebagai mesin produksi yang profesional. Konsolidasi BUMN bukan hanya soal mengurangi jumlah, tetapi juga tentang memperbaiki kualitas pengelolaan agar dapat menjadi pilar ekonomi yang kuat.
Penghematan Rp50-Triliun: Manfaat Nyata atau Illusi?
Penghematan Rp50 triliun dari 250 BUMN yang dikonsolidasi memang menggiurkan, tetapi perlu diwaspadai. Banyak BUMN memiliki beban utang atau aset yang tidak likuid, sehingga proses penutupan bisa menimbulkan biaya tak terduga. Selain itu, penghematan ini belum memperhitungkan dampak sosial seperti pengangkaran pegawai. Jika tidak dikelola dengan baik, konsolidasi bisa menjadi bumerang. Namun, jika dilakukan secara transparan dan berbasis data, ini adalah langkah penting untuk memperbaiki fiskal negara.
Peran Danantara: Solusi atau Agen Perubahan?
Danantara sebagai lembaga pengelola BUMN memiliki peran krusial dalam mengawal konsolidasi. Namun, sebagai entitas baru, pertanyaannya adalah apakah Danantara memiliki kapasitas dan independensi yang cukup untuk mengelola proses ini tanpa politik yang mengganggu. Jika berhasil, Danantara bisa menjadi model pengelolaan BUMN yang lebih profesional. Tapi jika gagal, akan memperparah ketergantungan pada struktur yang sudah tidak efisien.
Target 350 BUMN: Realistis atau Impian yang Terlalu Ambisius?
Mengurangi 700 BUMN dalam waktu 18 bulan adalah target yang sangat ambisius. Proses merger dan penutupan memerlukan waktu, konsultasi, dan transparansi. Jika dipaksakan, bisa menimbulkan konflik kepentingan atau bahkan krisis likuiditas. Namun, jika dijalankan dengan strategi jelas, target ini bisa menjadi momentum untuk memperbaiki kinerja BUMN secara keseluruhan. Kuncinya ada pada kemampuan pemerintah untuk mengelola transisi ini tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa jumlah BUMN tiba-tiba mencapai 1.077?
A: Banyak BUMN membentuk anak perusahaan tanpa alasan bisnis yang jelas, sehingga terjadi pembentukan struktur berlapis seperti 'cicit perusahaan'. - Q: Bagaimana cara kerja konsolidasi BUMN?
A: Melalui merger (penggabungan), penutupan, dan penghematan biaya operasional seperti gaji, sewa gedung, serta transportasi. - Q: Apa dampak konsolidasi BUMN terhadap ekonomi?
A: Jika berhasil, bisa meningkatkan efisiensi dan mengalokasikan sumber daya ke sektor yang lebih produktif. Namun, risiko kehilangan lapangan kerja dan beban utang BUMN perlu diwaspadai.
BERITA TERKAIT

Tragedi di Bologna: Kematian Pengusaha Membakar Protes Anti‑Polisi, Bisnis dan Politik Terguncang

Haaland dan Vozinha Menggebrak Instagram: Siapa yang Benar‑Benar Mengalahkan Messi & Ronaldo?
