Lalampahan Sakola di Papua Kulon Ngalangkung Jarak Sakali Poé Pikeun LCC Opat Pilar: Antara Sumanget jeung Kesenjangan Infrastruktur
Budi Santoso
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Manokwari, 12 Juli 2026 – Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat provinsi Papua Barat yang digelar pada 10–11 Juli 2026 menoreh prestasi luar biasa dari para pelajar yang rela menempuh perjalanan panjang demi mewakili daerah masing-masing. Namun di balik kisah inspiratif ini, muncul sorotan kritis terhadap ketimpangan akses pendidikan, keterbatasan infrastruktur, serta dukungan pemerintah yang belum memadai.
Perjuangan di Setiap Langkah
Tim dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Fakfak menempuh perjalanan darat selama hampir 24 jam, sementara siswa SMAN 1 Bintuni menghabiskan waktu lima jam di jalan. Adli Aldi Arsyafin Fimbay, perwakilan SMAN 1 Bintuni, mengungkapkan bahwa timnya sudah tiba di Manokwari sejak Rabu (8/7) untuk persiapan matanag. "Kalau kita menang, hadiah akan kami gunakan buat beli HP baru karena HP salah satu teman timnya rusak," katanya, menambahkan sentuhan kehangatan pada kompetisi ini.
Warisan Budaya yang Mengalun
Selain kompetisi akademik, peserta juga memperlihatkan kekayaan budaya setempat: Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional dan tradisi Bakar Batu (Barapen) yang ditampilkan oleh SMAN 1 Manokwari. Wachid Nugroho, Kepala Biro Persidangan dan Pemasyarakatan Konstitusi Sekretariat Jenderal MPR RI, menyatakan bahwa kearifan lokal ini selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Namun, pertanyaannya: apakah budaya ini hanya dijadikan istimewa dalam acara, atau sudah diintegrasikan secara mendalam ke dalam kurikulum pendidikan daerah?
Sekolah yang Mewakili Daerah
Sembilan sekolah berhasil mengukir prestasi mereka dalam kompetisi ini: SMAN 1 Manokwari, SMAN 1 Bintuni, MAN Fakfak, SMAN 1 Prafi, SMAN 2 Manokwari, MAN Manokwari, SMA IT Insan Mulia Manokwari, SMK Kehutanan Negeri Manokwari, dan SMAN Taruna Kasuari Nusantara Papua Barat. Mereka bersaing bukan hanya untuk gelar juara provinsi, tetapi juga tiket ke final nasional di Jakarta.
Pendapat Tokoh
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua sisi dari fenomena ini. Di satu sisi, keberanian pelajar Papua Barat membuktikan bahwa semangat belajar tak terhalang jarak atau keterbatasan. Di sisi lain, fakta mereka harus menempuh perjalanan hampir sehari untuk mengikuti lomba mengungkap ketiadaan infrastruktur yang memadai. Jalan yang rusak, minimnya transportasi umum, serta dana perjalanan yang terbatas menjadi beban yang seharusnya tidak dikeluarkan dari bahu generasi muda.
Ketimpangan ini bukan sekadar soal logistik; ia berdampak langsung pada partisipasi siswa dari daerah terpencil dalam kompetisi nasional. Hal ini mengurangi peluang mereka untuk mendapatkan beasiswa, jaringan, atau akses pendidikan lanjutan. Seperti yang dikutip dalam artikel sebelumnya, transformasi karakter siswa menjadi kunci agar mereka tetap bersemangat meski di tengah keterbatasan. Pemerintah provinsi perlu menyesuaikan alokasi anggaran pendidikan, terutama dalam subsidi transportasi dan pembangunan pusat pelatihan yang lebih dekat dengan sekolah-sekolah di pelosok.
Selain itu, peran MPR RI sebagai penyelenggara LCC Empat Pilar juga perlu dipertanyakan. Apakah lomba ini benar-benar menjadi sarana untuk memperkuat kearifan lokal, atau hanya menjadi simbol tanpa dampak nyata? Penentuan lokasi lomba harus transparan, serta dukungan logistik bagi peserta dari daerah terpencil harus menjadi prioritas. Tanpa itu, lomba akan terus menjadi arena bagi yang berada di pusat, sementara yang lain hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.
Terakhir, jangan lupa pada nilai-nilai yang ditonjolkan para peserta: solidaritas, kerja keras, dan tanggung jawab sosial. Jika pemerintah dan lembaga terkait mampu mengubah semangat ini menjadi kebijakan konkret, maka LCC Empat Pilar bukan hanya akan menjadi kompetisi, tetapi juga katalisator perubahan pendidikan yang adil dan inklusif di seluruh Indonesia.
BERITA TERKAIT

Ancaman 'Super El Nino' Menghantam Jepang: Krisis Pangan dan Alarm Kiamat Iklim yang Terabaikan

Ilusi 'Haji Murah': MUI Kritik Keras Skema Subsidi Terselubung BPKH yang Cederai Prinsip Istithaa'ah
