Dua Putri Indonesia Membakar Lintasan Chamonix: Desak Made & Kadek Adi Tembus 16 Besar, Rajiah Hanya 0,02 Detik dari Kejayaan

Olahraga
Maya SariMaya Sari
Maya Sari
Maya Sari
Wartawan Olahraga

Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Dua Putri Indonesia Membakar Lintasan Chamonix: Desak Made & Kadek Adi Tembus 16 Besar, Rajiah Hanya 0,02 Detik dari Kejayaan
BAGIKAN:

JAKARTA — Dalam pertarungan sengit di World Climbing Series Chamonix 2026, dua wajah baru panjang tebing Indonesia berhasil mencuri perhatian dunia: Desak Made Rita dan Kadek Adi Asih berhasil menembus babak 16 besar (putaran final) kategori speed, memperlihatkan lompatan kualitas yang mengesankan di panggung kelas dunia. Sementara itu, Rajiah Sallsabillah, yang sempat diandalkan sebagai andalan utama, hanya gagal terpaut 0,020 detik dari zona 16 besar—sebuah angka yang nyaris tak terlihat, namun mengandung duri kekecewaan yang tajam.

Berdasarkan data resmi dari International Federation of Sport Climbing (IFSC), Desak Made yang mencatat waktu 6,485 detik di lintasan B (peringkat ke-6 secara keseluruhan) dan 8,926 detik di lintasan A, berhasil mengamankan tiket final berkat performa konsisten dan stabilitas mental yang membaik signifikan dibanding edisi sebelumnya. Sementara Kadek Adi Asih, dengan catatan 6,658 detik di lintasan B dan 7,563 detik di lintasan A, menempati peringkat ke-11—menunjukkan kemampuan adaptasi lintasan yang semakin terukur.

Sementara Rajiah Sallsabillah, yang sempat menjadi harapan besar setelah tampil impresif di kualifikasi Asia, harus puas di posisi ke-17. Ia mencatat 6,889 detik di lintasan A dan 6,746 detik di lintasan B—angka yang sebenarnya lebih cepat daripada Milana Melnichenko dari Rusia (6,726 detik), namun karena sistem penilaian IFSC menggunakan best of two runs dan menghitung rata-rata, Rajiah akhirnya tertinggal tipis. Kegagalan ini bukan sekadar kehilangan tiket, tapi juga kehilangan poin krusial dalam klasemen kualifikasi Olimpiade Paris 2024.

Babak 16 besar yang akan digelar Sabtu (11/7) pukul 21.00 waktu Chamonix, Prancis, bukan sekadar lanjutan kompetisi—bagi Indonesia, ini adalah ujian nyata terhadap kemampuan mental dan teknis atlet dalam tekanan tinggi. Jika Desak dan Kadek mampu mempertahankan performa, bukan mustahil mereka menembus perempat final—dan bahkan lebih jauh.

Opini Mendalam: Di Balik 0,02 Detik dan Ketergantungan pada Sistem yang Tak Adil

Angka 0,020 detik bukan sekadar angka kecil di atas kertas—ia adalah representasi dari paradoks modern dalam olahraga ekstrem: di satu sisi, teknologi pengukuran waktu semakin presisi hingga milidetik; di sisi lain, sistem penilaian dan kualifikasi yang masih mengandalkan rata-rata dua lintasan menciptakan ketidakadilan struktural yang tak terlihat. Rajiah, dengan catatan tercepat di lintasan A (6,889 detik), sebenarnya lebih cepat dari 15 atlet lain—tapi sistem IFSC tidak menghargai kecepatan maksimal, melainkan konsistensi. Padahal, dalam speed climbing, peak performance sering kali muncul hanya dalam satu sesi—dan itu sering kali ditentukan oleh kondisi fisik, psikologis, bahkan cuaca di ruang kualifikasi.

Lebih dari itu, keberhasilan Desak dan Kadek membuka mata kita pada transformasi struktural dalam pembinaan atlet Indonesia. Dulu, kita terbiasa mengandalkan bakat alami dan latihan intensif tanpa pendekatan ilmiah. Kini, dengan adanya pelatihan berbasis data, analisis biomekanika, serta kerja sama erat antara pelatih, psikolog olahraga, dan tim medis, kita mulai melihat atlet yang tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga mentally resilient. Fakta bahwa Desak mampu menurunkan waktu hingga 2,44 detik dari lintasan A ke B (dari 8,926 ke 6,485) menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa—sesuatu yang dulu hanya dimiliki atlet Eropa atau Tiongkok. Ini adalah bukti bahwa industri olahraga Indonesia mulai belajar bermain di level global, bukan hanya berpartisipasi.

Namun, jangan terburu-buru memuji. Di balik keberhasilan ini, ada pertanyaan besar yang belum terjawab: mengapa FPTI masih mengandalkan sistem seleksi yang tidak transparan? Mengapa tidak ada publikasi jelas mengenai kriteria kualifikasi untuk event internasional? Jika Rajiah—yang secara statistik lebih cepat di lintasan A—tidak bisa masuk 16 besar hanya karena sistem penilaian, lalu apa yang sebenarnya diukur oleh komite seleksi nasional? Apakah kita sedang membangun sistem berbasis data, atau hanya memperbaiki tampilan di permukaan? Kita butuh audit menyeluruh terhadap proses seleksi, pelatihan, dan evaluasi pasca-event—bukan hanya pujian pasca-pertandingan. Tanpa itu, keberhasilan Chamonix 2026 hanya akan menjadi flash in the pan, bukan awal dari era baru.

Terakhir, ini adalah momen krusial untuk mempertimbangkan strategi jangka panjang: apakah Indonesia akan terus mengandalkan speed climbing sebagai andalan medali, atau mulai mengalihkan fokus ke combined (speed + boulder + lead)? Di Chamonix, keunggulan Desak dan Kadek hanya terlihat di speed—tapi di Olimpiade, semua disatukan. Apakah mereka siap menghadapi tantangan multidimensi ini? Atau kita akan kembali ke posisi yang sama: bangga pada satu cabang, tapi gagal di yang lain? Kita harus berani menghadapi pertanyaan-pertanyaan ini—sebelum dunia mulai bertanya: ā€œApakah ini hanya keberuntungan, atau benar-benar transformasi?ā€