Tragedi KM Nurul Salsa: Korban Ternyata 76 Orang, 15 Masih Hilang – Apa Penyebabnya?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Jumlah korban kapal KM Nurul Salsa turun menjadi 76 orang setelah verifikasi data.
- 58 penumpang selamat, 3 ditemukan meninggal, dan 15 masih dalam pencarian.
- Investigasi Basarnas Makassar mengungkap adanya duplikasi data dan penumpang yang tidak naik kapal.
Makassar, 23 Juli 2026 – Pencarian korban kapal feri KM Nurul Salsa yang tenggelam di perairan Kepulauan Selayar kini resmi berkurang menjadi 76 orang, bukan 78 seperti yang sebelumnya dilaporkan. Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengonfirmasi perubahan data pada Kamis (23/7) setelah proses verifikasi menyeluruh.
Menurut Sultan, dua nama penumpang tercatat ganda dalam manifest, sementara satu nama yang semula masuk dalam daftar ternyata tidak pernah naik kapal. "Kami melakukan pencocokan data dengan keluarga korban, operator kapal, dan instansi terkait untuk memastikan akurasi," ujarnya.
Saat ini, 58 orang telah ditemukan selamat, tiga korban ditemukan meninggal, dan 15 orang masih dinyatakan hilang. Tim pencarian terus menggali area yang diperkirakan menjadi lokasi terakhir kapal, dengan harapan menemukan sisa korban yang masih belum teridentifikasi.
Identitas dua korban meninggal masih dalam proses verifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel. Salah satu jenazah ditemukan mengapung bersama pelampung kapal, sedangkan yang lainnya berupa bagian tubuh yang terdampar di pantai.
Basarnas menegaskan komitmen untuk melanjutkan operasi pencarian hingga semua korban teridentifikasi secara resmi, serta menunggu hasil otopsi untuk mengungkap penyebab pasti tenggelamnya kapal.
Analisis Pakar
Kasus tenggelamnya KM Nurul Salsa menyoroti kegagalan sistematis dalam pengawasan keselamatan maritim di Indonesia. Pertama, duplikasi data penumpang mengindikasikan kurangnya standar pencatatan yang ketat pada operator feri. Tanpa verifikasi yang memadai, pihak berwenang tidak dapat menilai kapasitas kapal secara akurat, yang pada gilirannya meningkatkan risiko kelebihan muatan dan ketidakseimbangan.
Kedua, ketidakjelasan mengenai satu penumpang yang tidak naik kapal namun tetap tercatat dalam manifest menimbulkan pertanyaan tentang prosedur boarding dan kontrol dokumen. Hal ini membuka celah bagi potensi penyalahgunaan atau kelalaian administratif yang dapat memperparah situasi darurat.
Ketiga, respons cepat Basarnas dalam memperbaharui data korban patut diapresiasi, namun kecepatan tersebut tidak boleh mengorbankan transparansi. Publik berhak mendapatkan informasi yang jelas dan konsisten, terutama ketika nyawa manusia dipertaruhkan. Pemerintah daerah dan kementerian harus memperkuat koordinasi lintas lembaga, termasuk otoritas pelabuhan, operator kapal, dan lembaga keselamatan, untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.
Akhirnya, investigasi mendalam terhadap penyebab teknis kapal—seperti kondisi mesin, pemeliharaan, dan cuaca pada saat kejadian—harus dipublikasikan secara terbuka. Tanpa data yang lengkap, upaya reformasi kebijakan keselamatan maritim akan tetap setengah hati dan tidak efektif.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa total korban yang teridentifikasi dalam kecelakaan KM Nurul Salsa?
A: Saat ini tercatat 58 orang selamat, 3 orang meninggal, dan 15 orang masih hilang, dengan total korban 76 orang. - Q: Mengapa jumlah korban berubah dari 78 menjadi 76 orang?
A: Verifikasi data menemukan dua nama penumpang tercatat ganda dan satu nama yang tidak naik kapal, sehingga jumlah korban dikoreksi menjadi 76. - Q: Siapa yang bertanggung jawab atas proses identifikasi jenazah?
A: Identifikasi dilakukan oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan.
BERITA TERKAIT

Sucofindo Gandeng Danantara: Perangi Under‑Invoicing & Amankan Ekspor Mineral Indonesia

Jonatan Christie Bangkit dari Kekalahan Besar, Menembus Perempat Final China Open 2026!
