Latihan Militer China‑Rusia di Dekat ZEE Jepang Picu Protes Tokyo: Apa Implikasinya?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Pasukan militer Jepang melaporkan latihan gabungan antara China dan Rusia di zona ekonomi eksklusif (ZEE) sekitar 180 km barat daya Okinotori.
- Jepang mengajukan protes diplomatik, menilai aktivitas tersebut mengancam keselamatan navigasi dan melanggar kedaulatan.
- Latihan melibatkan kapal perusak rudal kelas Renhai, Luyang III, fregat Steregushchiy, dan kapal pengisian bahan bakar Fuchi.
Dalam sebuah pernyataan resmi pada Selasa (21 Juli), Kementerian Pertahanan Jepang menegaskan bahwa latihan militer gabungan antara China dan Rusia dilaksanakan di dalam ZEE Jepang, tepatnya di perairan selatan Okinotori. Operasi tersebut dimulai pada Minggu (19 Juli) pagi dan melibatkan empat kapal militer: kapal perusak rudal kelas Renhai buatan China, kapal perusak rudal kelas Luyang III, kapal pengisian bahan bakar kelas Fuchi, serta fregat kelas Steregushchiy milik Rusia.
Jepang menyatakan bahwa satu kapal perusak China melakukan tembakan langsung di wilayah yang sama, menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan navigasi kapal sipil. Menanggapi hal tersebut, pemerintah Tokyo mengirimkan protes resmi melalui jalur diplomatik, menuduh bahwa aktivitas tersebut "membahayakan navigasi" dan melanggar hak kedaulatan Jepang di ZEE‑nya.
Sementara Kementerian Luar Negeri China belum memberikan komentar, perselisihan historis mengenai status Okinotori tetap menjadi latar belakang ketegangan. Beijing menganggap pulau tersebut sebagai batu karang, bukan pulau berdaulat, dan menolak klaim Jepang atas perairan di sekitarnya sebagai ZEE. Ketegangan ini semakin memuncak setelah komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi tentang Taiwan pada akhir 2023, yang memicu serangkaian kritik dan tindakan ekonomi dari Beijing.
Di sisi lain, hubungan militer antara China dan Rusia terus menguat, dengan peningkatan frekuensi operasi gabungan di wilayah yang sama. Tokyo merespons dengan meningkatkan pengawasan maritim dan memperkuat pertahanan di gugusan pulau barat daya, termasuk penempatan pesawat patroli dan kapal perusak tambahan.
Analisis Pakar
Latihan militer ini menandai titik kritis dalam dinamika keamanan Indo‑Pasifik, di mana dua kekuatan besar—China dan Rusia—menunjukkan kemampuan proyeksi kekuatan mereka di wilayah yang secara tradisional berada di bawah pengaruh Jepang dan Amerika Serikat. Dari perspektif strategis, kehadiran kapal perusak rudal kelas Renhai dan Luyang III menandakan niat Beijing untuk menguji kemampuan tembak jarak jauh dalam kondisi operasional nyata, sekaligus mengirimkan sinyal kepada negara‑negara tetangga bahwa zona maritimnya tidak dapat dipandang remeh.
Untuk Jepang, respons diplomatik dan peningkatan kesiapan militer mencerminkan upaya menjaga kredibilitas kedaulatan nasionalnya. Namun, langkah-langkah ini harus diimbangi dengan dialog multilateral, mengingat risiko eskalasi yang tidak diinginkan. Keterlibatan Amerika Serikat sebagai sekutu utama Jepang menjadi faktor penyeimbang, tetapi juga menambah kompleksitas geopolitik, terutama bila Washington menegaskan komitmen keamanan di wilayah tersebut.
Di tingkat regional, latihan ini dapat memperkuat aliansi antara China dan Rusia, yang selama ini berusaha menyeimbangkan dominasi Amerika Serikat. Koordinasi mereka di perairan dekat Okinotori bukan sekadar demonstrasi kekuatan, melainkan upaya membentuk zona pengaruh yang lebih luas, yang pada gilirannya dapat memicu perlombaan senjata maritim di Indo‑Pasifik.
Secara keseluruhan, insiden ini menegaskan pentingnya mekanisme penyelesaian sengketa laut yang berbasis hukum laut internasional, termasuk UNCLOS. Tanpa kerangka kerja yang dapat diandalkan, setiap tindakan militer di wilayah sensitif berpotensi memicu krisis diplomatik yang meluas, mengancam stabilitas ekonomi dan keamanan regional.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa yang dimaksud dengan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang?
- A: ZEE adalah wilayah laut hingga 200 mil laut dari garis pantai suatu negara, di mana negara tersebut memiliki hak eksklusif untuk eksplorasi dan pemanfaatan sumber daya alam.
- Q: Mengapa China menganggap Okinotori sebagai batu karang, bukan pulau?
- A: China berargumen bahwa Okinotori tidak memenuhi kriteria internasional untuk pulau berdaulat, sehingga tidak berhak atas klaim ZEE di sekitarnya.
- Q: Bagaimana respons internasional terhadap latihan militer China‑Rusia ini?
- A: Amerika Serikat dan sekutu regionalnya, termasuk Jepang, telah menyatakan keprihatinan dan menegaskan pentingnya kebebasan navigasi serta kepatuhan pada hukum laut internasional.
BERITA TERKAIT

DPR Tetap Gelar Rapat Legislasi di Masa Reses: RUU Perampasan Aset & Lalu Lintas Jalan Dipercepat!

Raksasa Baru Pendidikan Kelautan: 11 Vokasi Bergabung Jadi Ocean Institute Indonesia, Janji Revolusi SDM dan Startup
