Mandalika Tak Cuma Soal MotoGP: Ambisi Wamenpora Taufik Hidayat Ubah KEK Jadi Hub Sport Tourism Global

Olahraga
Dimas PratamaDimas Pratama
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Mandalika Tak Cuma Soal MotoGP: Ambisi Wamenpora Taufik Hidayat Ubah KEK Jadi Hub Sport Tourism Global
BAGIKAN:

LOMBOK TENGAH – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika kini tengah bersiap memperluas cakrawala daya tariknya. Tidak ingin hanya dikenal sebagai sirkuit balap motor kelas dunia, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kini mendorong transformasi Mandalika menjadi pusat wisata olahraga (sport tourism) yang lebih komprehensif.

Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, Taufik Hidayat, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung pembangunan berbagai fasilitas olahraga di kawasan tersebut. Menurutnya, orientasi pembangunan fasilitas ini tidak melulu soal mengejar prestasi atlet, melainkan strategi besar untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat lokal melalui industri olahraga.

"Pemerintah mendukung semua pembangunan fasilitas olahraga, tidak hanya untuk mencari prestasi, tetapi mengembangkan industri olahraga yang berdampak pada ekonomi masyarakat," ujar Taufik saat meresmikan fasilitas olahraga padel di The Mandalika, Sabtu.

Taufik menyoroti pergeseran tren hiburan global yang kini lebih condong ke arah gaya hidup sehat, seperti olahraga lari dan padel yang tengah naik daun. Dengan infrastruktur yang memadai, ia optimis Mandalika dapat menjadi penopang utama sport tourism di Indonesia, sehingga wisatawan tidak hanya datang untuk menyaksikan MotoGP, tetapi juga untuk berolahraga dan berwisata.

Senada dengan hal tersebut, Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, mengungkapkan bahwa pengembangan ekosistem pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan potensi alam. Fasilitas olahraga yang lengkap menjadi kunci untuk menarik wisatawan yang mengusung gaya hidup sehat.

Saat ini, ITDC telah membangun tiga lapangan padel dan satu lapangan basket, dengan rencana ekspansi lima lokasi lapangan padel tambahan di kawasan Gunung. "Kami ingin mewujudkan Mandalika semakin mendunia. Wisatawan bisa menikmati budaya, seni, kuliner, sekaligus fasilitas olahraga yang tersedia," pungkas Ahmad Fajar.

Analisis Redaksi: Menakar Realitas di Balik Euforia 'Sport Tourism'

Sebagai jurnalis senior yang telah lama mengamati dinamika pembangunan infrastruktur di Indonesia, saya melihat langkah Wamenpora Taufik Hidayat dan ITDC ini sebagai upaya diversifikasi produk wisata yang cerdas, namun sekaligus menyimpan risiko jika tidak dikelola dengan kritis. Menambahkan lapangan padel dan basket di tengah kemegahan Sirkuit Mandalika adalah langkah 'estetik' untuk menarik kelas menengah atas dan ekspatriat. Namun, pertanyaan besarnya adalah: Sejauh mana fasilitas ini benar-benar menyentuh akar rumput ekonomi masyarakat Lombok Tengah?

Kita harus jujur bahwa olahraga seperti padel adalah olahraga elit dengan biaya peralatan dan akses yang tidak murah. Jika narasi yang dibangun adalah 'berdampak pada ekonomi masyarakat', maka pemerintah harus mampu menjelaskan bagaimana warga lokal—yang mungkin tidak tahu apa itu padel—bisa mendapatkan keuntungan finansial dari keberadaan lapangan-lapangan ini. Jangan sampai fasilitas ini hanya menjadi 'aksesori mewah' bagi wisatawan mancanegara dan kaum jetset Jakarta, sementara warga lokal hanya menjadi penonton atau sekadar petugas kebersihan di pinggir lapangan.

Lebih jauh lagi, saya mengkritisi pernyataan mengenai 'melahirkan atlet berprestasi'. Membangun fasilitas adalah satu hal, namun membangun ekosistem pembinaan atlet adalah hal lain yang jauh lebih kompleks. Tanpa program pelatihan yang terstruktur, pelatih yang tersertifikasi, dan kompetisi rutin, lapangan-lapangan baru ini hanya akan menjadi monumen beton yang terbengkalai setelah tren padel meredup. Kita sudah terlalu sering melihat proyek infrastruktur olahraga di berbagai daerah yang megah saat peresmian, namun menjadi 'hutan beton' yang sunyi beberapa tahun kemudian.

Prediksi saya, Mandalika akan menghadapi tantangan berat dalam menjaga konsistensi okupansi di luar kalender MotoGP. Strategi sport tourism ini adalah langkah tepat untuk mengisi kekosongan tersebut, namun pemerintah harus bergeser dari sekadar 'membangun fisik' menuju 'membangun manajemen'. Jika ITDC dan Kemenpora mampu mengintegrasikan fasilitas ini dengan paket wisata budaya dan kuliner lokal secara organik, maka ekonomi kerakyatan akan bergerak. Namun jika ini hanya menjadi proyek pembangunan fasilitas tanpa strategi pemasaran dan inklusivitas sosial, maka sport tourism di Mandalika hanya akan menjadi jargon politik tanpa dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat.