Ilusi Hunian Terjangkau: Gen Z Terjebak di 'Kotak Beton' Pusat Kota?

Ekonomi
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ilusi Hunian Terjangkau: Gen Z Terjebak di 'Kotak Beton' Pusat Kota?
BAGIKAN:

TANGERANG — Fenomena pergeseran preferensi hunian kini tengah melanda Generasi Z. Keterbatasan lahan di pusat kota dan lonjakan harga properti tapak memaksa generasi muda ini melirik hunian vertikal sebagai solusi pragmatis untuk tetap berada di jantung aktivitas urban.

CEO Architect WOW, Ikhlas Miftah, mengungkapkan bahwa daya tarik utama apartemen bagi Gen Z bukan sekadar soal estetika, melainkan aksesibilitas. Kedekatan dengan pusat gaya hidup seperti kafe, restoran, dan tempat berkumpul menjadi variabel utama dalam pemilihan tempat tinggal. Menurutnya, hunian tapak kini kian terpinggirkan ke pinggiran kota, menciptakan jarak yang tidak efisien bagi mobilitas pekerja muda.

"Gen Z kesulitan mendapatkan properti yang nyaman namun tetap terjangkau di pusat kota. Oleh karena itu, hunian vertikal dengan tipe studio menjadi pilihan paling rasional," ujar Ikhlas dalam keterangannya di Kabupaten Tangerang, Sabtu.

Lebih lanjut, Ikhlas menilai bahwa standar kebutuhan ruang bagi Gen Z telah mengalami degradasi atau penyederhanaan. Mereka tidak lagi memprioritaskan luas bangunan, melainkan fungsionalitas digital. Selama tersedia koneksi internet yang stabil, akses listrik yang memadai, serta kemudahan layanan pesan antar makanan dan transportasi daring, hunian minimalis sudah dianggap cukup.

Sejalan dengan tren ini, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menegaskan bahwa pemerintah memang mengarahkan penyediaan rumah di perkotaan melalui konsep hunian vertikal. Langkah ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto guna menekan konversi lahan yang berlebihan untuk perumahan horizontal.

Keterbatasan lahan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta menjadi alasan utama mengapa pembangunan rumah susun atau apartemen menjadi prioritas strategis pemerintah dalam mengatasi backlog perumahan nasional.

Catatan Redaksi: Menelisik Sisi Gelap 'Normalisasi' Hunian Sempit

Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati dinamika urbanisasi di Indonesia, saya melihat narasi "Gen Z lebih suka hunian kecil" adalah sebuah simplifikasi yang berbahaya. Kita harus jujur: ini bukan soal preferensi, melainkan soal keterpaksaan. Ketika harga tanah di pusat kota melambung tak terkendali akibat spekulasi properti, maka pilihan untuk tinggal di unit studio yang sempit bukanlah sebuah gaya hidup, melainkan bentuk penyerahan diri terhadap realitas ekonomi yang mencekik.

Ada risiko psikologis dan sosial yang mengintai ketika kita menormalisasi hunian vertikal tipe studio sebagai standar "layak" bagi generasi muda. Ruang hidup yang terlalu sempit dalam jangka panjang dapat memicu stres kronis dan degradasi kualitas kesehatan mental. Mengatakan bahwa Gen Z "sudah senang dengan colokan dan platform streaming" adalah cara halus untuk mengabaikan hak dasar manusia atas ruang hidup yang sehat dan bermartabat. Kita sedang menggiring generasi masa depan untuk hidup dalam 'kotak beton' yang mengisolasi mereka dari interaksi sosial organik, menggantinya dengan interaksi digital yang semu.

Dari sisi kebijakan, arahan Presiden Prabowo melalui Menteri PKP untuk mengoptimalkan hunian vertikal memang tepat secara tata ruang, namun harus dikawal dengan ketat. Jangan sampai agenda ini hanya menjadi karpet merah bagi pengembang swasta untuk membangun apartemen mewah berkedok "hunian terjangkau", yang pada akhirnya hanya akan menambah beban cicilan bulanan Gen Z tanpa memberikan kepemilikan aset yang nyata. Jika skema pembiayaannya tidak benar-benar pro-rakyat, maka hunian vertikal hanya akan menjadi instrumen baru untuk menjebak generasi muda dalam lingkaran utang jangka panjang.

Prediksi saya, jika pemerintah tidak segera mengintervensi harga lahan dan menyediakan hunian vertikal yang benar-benar bersubsidi (bukan sekadar komersial), kita akan melihat munculnya fenomena urban slum vertikal di masa depan. Kota akan dipenuhi gedung-gedung tinggi dengan unit-unit kecil yang tidak manusiawi, sementara lahan hijau di pinggiran kota tetap dikuasai oleh segelintir elit. Kita butuh solusi yang tidak hanya "dekat dengan kafe", tapi solusi yang menjamin keberlanjutan hidup dan martabat manusia bagi mereka yang baru saja memulai langkah di dunia kerja.