Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kinerja Keuangan PT Pyridam Farma Tumbuh 17,2% berkat Layanan CDMO Terintegrasi

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara Terkini
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kinerja Keuangan PT Pyridam Farma Tumbuh 17,2% berkat Layanan CDMO Terintegrasi
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Perbaikan kualitas pertumbuhan ini terlihat dari menguatnya margin laba bruto Perseroan menjadi 22,5 persen dari sebelumnya 20,3 persen, berkat efisiensi biaya tetap per unit produksi.
  • Hingga kuartal III/2026, Perseroan masih mencatatkan rugi periode berjalan sebesar Rp338,7 miliar , namun angka tersebut telah menyusut 7,4 persen dari tahun lalu.
  • Selisih kurs penjabaran juga turut berkontribusi terhadap penyusutan rugi komprehensif sebesar 27,8 persen menjadi Rp221,4 miliar.

PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) membukukan lonjakan kinerja keuangan yang signifikan dengan mencatatkan pendapatan neto sebesar Rp2,41 triliun pada kuartal III 2026, atau tumbuh 17,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Direktur Keuangan PT Pyridam Farma Tbk, Sinta Ningsih, menegaskan bahwa peningkatan ini ditopang oleh layanan Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO) yang kini beroperasi secara terintegrasi dari Indonesia dan Australia. “Pertumbuhan pendapatan 17,2 persen yang diiringi kenaikan laba bruto 29,9 persen serta penyusutan rugi usaha 91,5 persen mencerminkan bahwa model bisnis manufaktur terintegrasi dan layanan CDMO kami semakin solid,” ujar Sinta dalam keterangannya di Jakarta.

Perbaikan kualitas pertumbuhan ini terlihat dari menguatnya margin laba bruto Perseroan menjadi 22,5 persen dari sebelumnya 20,3 persen, berkat efisiensi biaya tetap per unit produksi. Hingga kuartal III/2026, Perseroan masih mencatatkan rugi periode berjalan sebesar Rp338,7 miliar, namun angka tersebut telah menyusut 7,4 persen dari tahun lalu. Selisih kurs penjabaran juga turut berkontribusi terhadap penyusutan rugi komprehensif sebesar 27,8 persen menjadi Rp221,4 miliar. Sinta menambahkan bahwa capaian ini menunjukkan integrasi strategi ekspansi dan efisiensi operasional selama dua tahun terakhir berada di jalur yang tepat.

Ekspansi Portofolio Produk dan Akses Pasar Global

Sebagai mitra strategis perusahaan farmasi terkemuka, PYFA terus memperluas portofolio produk berlisensi untuk menjawab kebutuhan terapi penyakit dengan beban kesehatan nasional terbesar. Pada September 2026, Perseroan resmi mengantongi Persetujuan Izin Edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI untuk produk Fenofibrate 145 mg yang difokuskan pada penanganan gangguan lipid dan pencegahan masalah kardiovaskular. Kehadiran produk ini sangat relevan mengingat data BPJS Kesehatan periode Januari–September 2026 mencatatkan pembiayaan penyakit jantung sebesar Rp17,35 triliun dan stroke sebesar Rp7,21 triliun.

Kapabilitas CDMO yang menjadi penopang utama kinerja ini dibangun secara bertahap sejak akuisisi Probiotec pada 2024, mencakup pengembangan formula, registrasi produk, hingga produksi massal untuk sediaan tablet, kapsul, sirup, krim, hingga injeksi. Fasilitas di Australia telah mengantongi lisensi Therapeutic Goods Administration (TGA), membuka akses pasar ekspor dengan standar internasional. Sementara itu, ekspansi fasilitas injeksi steril Lini 3 di PT Ethica Industri Farmasi ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2027 untuk mengoptimalkan kapasitas terpasang.

Dampak Strategis dan Optimasi Operasional Jangka Panjang

Dengan adanya produk baru dan fasilitas manufaktur yang lebih luas, kontribusi pendapatan dari lini kardiovaskular diprediksi akan mulai terlihat secara signifikan pada periode berikutnya seiring berjalannya distribusi. Sinta menekankan bahwa Perseroan tidak hanya memperluas skala bisnis di pasar domestik dan regional, tetapi juga secara konsisten memperbaiki struktur biaya operasional untuk mempercepat pencapaian profitabilitas.

Perbaikan ini didorong oleh volume produksi yang lebih besar yang menekan biaya tetap per unit. Dengan EBITDA yang mencapai Rp239,9 miliar (naik signifikan dari Rp8,8 miliar tahun lalu), meskipun masih terdapat beban depresiasi Rp252,7 miliar dan beban keuangan Rp322,4 miliar, PYFA optimis dapat memangkas kerugian secara progresif. Strategi ini menegaskan komitmen perusahaan dalam memperkuat ekosistem industri farmasi nasional melalui teknologi manufaktur dan layanan riset yang berkualitas tinggi.

Meow! Tanya Nesi!
😸