Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BNPB dan UI Bangun Ketangguhan Sosial Warga Sukabumi Pascabencana Tanah Gerak

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara Terkini
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

BNPB dan UI Bangun Ketangguhan Sosial Warga Sukabumi Pascabencana Tanah Gerak
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Universitas Indonesia (UI) meluncurkan program pendampingan sosial bagi masyarakat Kampung Haji, Desa Kertaangsana, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
  • Ketua Tim Pelaksana Pendampingan Sosial UI, Nazarudin , menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan fasilitas fisik.
  • Distribusi Stimulan untuk Tiga Pilar Komunitas Setelah masa penantian sekitar lima tahun, para penyintas mulai menempati kawasan hunian tetap (huntap) pada Agustus 2024.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Universitas Indonesia (UI) meluncurkan program pendampingan sosial bagi masyarakat Kampung Haji, Desa Kertaangsana, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Inisiatif ini bertujuan menciptakan ketangguhan sosial yang berkelanjutan bagi para penyintas bencana tanah gerak yang telah melanda wilayah tersebut sejak 2019, dengan fokus pada pemulihan kehidupan sosial, bukan sekadar rehabilitasi fisik.

Ketua Tim Pelaksana Pendampingan Sosial UI, Nazarudin, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan fasilitas fisik. "Yang tidak kalah penting adalah memulihkan kehidupan sosial masyarakat, menguatkan kembali solidaritas antarwarga, serta membangun kapasitas komunitas agar lebih siap menghadapi risiko bencana di masa mendatang," ujar Nazarudin dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu. Warga Kampung Haji merupakan penyintas bencana pergerakan tanah yang terjadi sejak Februari 2019 dan memburuk pada akhir April 2019, mengakibatkan kerusakan pada 129 rumah serta memaksa lebih dari seratus keluarga mengungsi.

Distribusi Stimulan untuk Tiga Pilar Komunitas

Setelah masa penantian sekitar lima tahun, para penyintas mulai menempati kawasan hunian tetap (huntap) pada Agustus 2024. Huntap ini terdiri atas 129 unit rumah di atas lahan seluas lima hektare. Untuk menghidupkan kembali interaksi sosial dan memperkuat kemandirian, tim pendamping menyerahkan barang stimulan kepada tiga kelompok masyarakat (pokmas). Pendekatan ini menempatkan warga sebagai subjek utama pemulihan, bukan sekadar penerima bantuan.

Rincian dukungan yang disalurkan mencakup:

  • Pokmas Kesehatan: Sarana pelayanan posyandu, alat antropometri, perlengkapan kesehatan, dan peralatan kesiapsiagaan bencana.
  • Pokmas Keagamaan: Perlengkapan pendukung kegiatan masjid, Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), pemulasaraan jenazah, dan sarana informasi.
  • Pokmas Pendidikan–Kepemudaan: Pengembangan pojok baca, alat permainan edukatif, perlengkapan sekolah kebun, dan sarana olahraga pemuda.

Secara umum, seluruh kelompok juga menerima perlengkapan kesiapsiagaan standar, termasuk alat pemadam api ringan (APAR), tas siaga bencana keluarga, paket P3K, tandu evakuasi, dan lampu darurat.

Menjaga Keberlanjutan dan Kemandirian Warga

Direktur Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup BNPB, Luqmanul Hakim, menekankan pentingnya memastikan proses rehabilitasi turut memperhatikan pemulihan kehidupan sosial. Ia menilai bahwa kebutuhan dan kemampuan masyarakat harus menjadi bagian integral dalam setiap tahapan pemulihan. "Lebih dari sekadar bantuan barang, stimulan ini diharapkan menjadi modal bersama untuk menghidupkan aktivitas komunitas, memperkuat gotong royong, dan meningkatkan kesiapsiagaan warga," tutur Luqmanul Hakim.

Program kolaborasi BNPB dan UI ini diharapkan dapat memastikan Kampung Haji tumbuh menjadi komunitas yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga guyub, tangguh, dan berdaya secara berkelanjutan dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.

Meow! Tanya Nesi!
😸