Saham Israel Anjlok, CEO TASE Desak Pembentukan Pemerintahan Konsensus untuk Selamatkan Ekonomi

- Seruan yang disampaikan melalui surat terbuka pada hari Senin (2/11/2026) ini merupakan respons langsung terhadap hasil pemilihan umum yang dinilai menempatkan tantangan nasional di atas pertikaian politik.
- Ketegangan politik di Israel telah berimbas signifikan pada sentimen pasar modal global.
- Data menunjukkan bahwa indeks acuan TA-125 turun 3,4% pada bulan Oktober 2026, sementara mata uang shekel melemah terhadap dolar AS.
CEO Tel Aviv Stock Exchange (TASE), Ittai Ben-Zeev, melancarkan desakan tegas kepada para pemimpin politik Israel untuk mengesampingkan kepentingan partisan dan segera membentuk pemerintahan berbasis konsensus. Seruan yang disampaikan melalui surat terbuka pada hari Senin (2/11/2026) ini merupakan respons langsung terhadap hasil pemilihan umum yang dinilai menempatkan tantangan nasional di atas pertikaian politik. Ben-Zeev memperingatkan bahwa masa depan ekonomi Israel kini 'tersandera' oleh ketidakpastian politik yang berlarut-larut, sebuah kondisi yang mengancam potensi pertumbuhan negara jika tidak segera diatasi melalui kerja sama lintas kubu.
Ketegangan politik di Israel telah berimbas signifikan pada sentimen pasar modal global. Data menunjukkan bahwa indeks acuan TA-125 turun 3,4% pada bulan Oktober 2026, sementara mata uang shekel melemah terhadap dolar AS. Meskipun secara tahunan indeks masih mencatatkan kenaikan 7,4% sejak awal 2026, investor kehilangan harapan akan perubahan pemerintahan yang cepat. Kondisi ini terjadi di tengah hasil pemilihan di mana partai oposisi terhadap Benjamin Netanyahu berhasil meraih 67 dari 120 kursi Knesset, jauh melampaui blok sayap kanan yang hanya memiliki 53 kursi.
Kepiawaian Koalisi dan Ketahanan Ekonomi di Tengah Perang
Jonathan Katz, Kepala Ekonom Leader Capital Markets, menilai bahwa membentuk pemerintahan stabil tetap menjadi tantangan besar. "Berdasarkan hasil pemilihan baru-baru ini, masih sulit untuk memasukkan unsur pemerintahan yang stabil di Israel," ujar Katz. Ia memperkirakan proses koalisi akan memakan waktu lama, bahkan membuka kemungkinan adanya putaran pemilihan ulang. Di sisi lain, Ben-Zeev memuji ketahanan ekonomi Israel yang berakar pada kewirausahaan, inovasi, dan pencapaian teknologi yang tetap kuat meskipun negara tersebut menghadapi perang selama tiga tahun berturut-turut. Kepercayaan investor terhadap sektor teknologi lokal tetap terjaga, namun Ben-Zeev menegaskan bahwa keunggulan teknologi semata tidak cukup untuk menjamin kemakmuran tanpa didukung oleh kebijakan yang solid.
Implikasi Kebijakan dan Harapan Investasi Global
Untuk mengubah potensi menjadi pertumbuhan nyata, Ben-Zeev menyerukan pemerintahan baru untuk mengambil langkah strategis yang melampaui siklus pemilu. Langkah-langkah prioritas yang didesak antara lain:
- Mengesahkan anggaran negara yang bertanggung jawab dan efisien.
- Meningkatkan investasi dalam infrastruktur dan merancang sistem pendidikan masa depan.
- Memperluas partisipasi tenaga kerja untuk memperbesar sumbu ekonomi nasional.
Dengan kepastian kebijakan tersebut, Israel berpotensi menarik investasi substansial dan menjadi pusat ekonomi dengan pengaruh global. Selain itu, Ben-Zeev mendorong pemanfaatan peluang regional melalui perluasan Perjanjian Abraham untuk membuka akses ke pasar-pasar baru. "Mengubah potensi menjadi pertumbuhan membutuhkan keputusan berani, strategi jangka panjang, dan investasi dalam infrastruktur... yang dipandu oleh visi yang meluas jauh melampaui siklus pemilihan berikutnya," tegas Ben-Zeev, menekankan bahwa prospek ekonomi yang jelas adalah prasyarat mutlak bagi keberlanjutan investasi asing.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

KSPI Tekan Pemerintah: Naikkan Batas Bebas Pajak JHT ke Rp400 Juta, Ajukan Dasar Emas

LPS Ungkap 14 BPR dan BPRS Tumbang di 2026: Lemahnya Tata Kelola Jadi Biang Kerok Utama

Respons Emiten Affiliates Salim & Sinar Mas: Nyalakan Lampu Kuning Pasca Pemanggilan Bos Sawit oleh Singapura
