Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Penemuan Sel Darah Fossili di Tulang Dinosaurus: Jendela Molekuler Baru ke Fisiologi Purba

TeknologiKelvin WijayaKelvin WijayaSumber: New Atlas Future Tech
Kelvin Wijaya
Kelvin Wijaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Penemuan Sel Darah Fossili di Tulang Dinosaurus: Jendela Molekuler Baru ke Fisiologi Purba
BAGIKAN:

Sebuah studi mutakhir dari tim internasional yang dipimpin oleh Kliti Grice, ahli geo-organik dari Curtin University, mengungkap temuan mengejutkan: keberadaan sel darah merah yang termineralisasi berusia 115 juta tahun di dalam tulang kaki belakang spesies teropoda Aratasaurus museunacionalileg. Temuan ini dilaporkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences dan menawarkan jendela molekuler langsung untuk memahami fisiologi hewan yang telah punah. Grice menyatakan, "Mendeteksi molekul heme yang masih utuh dalam sel darah merah berusia 115 juta tahun sungguh luar biasa: ini adalah penemuan bersejarah yang memperluas catatan fosil darah yang diketahui."

Spesimen tulang yang diteliti berasal dari Formasi Romualdo di Brasil utara, milik dinosaurus sepanjang sekitar tiga meter yang diperkirakan berusia empat tahun saat mati. Bagian kaki belakang kanannya terbungkus oleh lapisan mikroba kuno (microbial mat). Meski mineral dari batuan surrounding biasanya menggantikan material asli tulang, pengamatan mikroskopis menunjukkan adanya struktur melingkar di dalam saluran yang dulunya merupakan pembuluh darah, mengindikasikan tingkat preservasi yang luar biasa tinggi.

Konfirmasi Kimia dan Analisis Forensik Fossil

Untuk memastikan struktur tersebut benar-benar sel darah dan bukan sekadar mineral atau pertumbuhan mikroba yang menyerupai sel, tim Grice menggabungkan mikroskopi dengan beberapa teknik analisis spektroskopi. Poin-poin kunci dari analisis ini mencakup:

  • Identifikasi heme B dan relative-nya yang mengalami perubahan kimia pada ekstrak tulang.
  • Deteksi tanda spektral porfirin (struktur pengikat besi) di dalam bentuk seluler.
  • Pemetaan unsur yang menunjukkan kehadiran besi, nitrogen, dan karbon yang terkait dengan struktur tersebut.
  • Deteksi hidroksiprolin, asam amino yang berkaitan dengan kolagen, yang mendukung interpretasi material tulang bertahan.
Para peneliti menegaskan bahwa porfirin yang terdeteksi didominasi oleh senyawa terkait heme, berbeda dengan pigmen fotosintesis yang dominan pada lapisan mikroba sekitar, sehingga kemungkinan kontaminasi dari lingkungan sekitar dapat dikecualikan secara signifikan.

Preservasi Luar Biasa dan Masa Depan Paleontologi

Penemuan ini menantang skeptisisme masa lalu, mengingat klaim kimia dinosaurus pernah muncul sejak akhir 1990-an pada T. rex namun sering diperdebatkan. Faktor preservasi yang kemungkinan besar memungkinkan bertahan senyawa-senyawa ini adalah adanya mineral oksida mangan bernama hausmannit. Sifat antioksidan dari mineral ini, dikombinasikan dengan kondisi penguburan yang miskin oksigen, kemungkinan melindungi material dari degradasi. Meskipun struktur sel tersebut tampak lebih bulat dan lebar dibandingkan darah burung atau krusia hidup, hal ini mungkin disebabkan oleh proses perataan fisik sebelum preservasi. Temuan ini bukan berarti kita telah mencapai teknologi "Jurassic Park", tetapi secara substansial meningkatkan ketertarikan pada paleontologi molekuler dan membuka pintu bagi pemahaman metabolisme purba yang lebih akurat di masa depan.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ