Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

OJK: IHSG Terkoreksi 16,7% di Oktober 2026, Tapi Investor Ritel dan Reksadana Tetap Bertahan

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Market & Saham
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

OJK: IHSG Terkoreksi 16,7% di Oktober 2026, Tapi Investor Ritel dan Reksadana Tetap Bertahan
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Friderica Widyasari Dewi , Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengungkapkan bahwa kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan pemulihan bertahap meski di tengah ketidakpastian global.
  • Berdasarkan data per kuartal III 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat berada di level 6.071 dengan pertumbuhan 7,83% secara kuartalan, didorong oleh penguatan signifikan pada Juli dan Agustus.
  • Kendati tren positif tersebut terlihat, Friderica mengakui adanya tekanan tajam yang masuk ke pasar Indonesia memasuki Oktober 2026.

Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengungkapkan bahwa kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan pemulihan bertahap meski di tengah ketidakpastian global. Berdasarkan data per kuartal III 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat berada di level 6.071 dengan pertumbuhan 7,83% secara kuartalan, didorong oleh penguatan signifikan pada Juli dan Agustus.

Kendati tren positif tersebut terlihat, Friderica mengakui adanya tekanan tajam yang masuk ke pasar Indonesia memasuki Oktober 2026. Kondisi ini memicu koreksi signifikan pada indeks acuan. Penurunan ini berkaitan erat dengan pengumuman konsultasi dari MSCI yang menggetarkan kepercayaan investor asing dalam beberapa minggu terakhir.

Koreksi Mendadak dan Data Investor

Koreksi tersebut terkonfirmasi secara data pada penutupan perdagangan 30 Oktober 2026. Saat itu, IHSG turun ke level 5.057, mencatatkan penurunan sebesar 16,7% secara bulan berjalan (month-to-date/mtd). Lonjakan koreksi yang tajam ini mencerminkan volatilitas pasar yang tinggi dan merespon langsung sentimen negatif global maupun perubahan metode indeksasi oleh MSCI.

Secara fundamental, kesehatan emiten tetap terjaga meskipun indeks tertekan. OJK mencatat bahwa 73,54% emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil membukukan laba dalam laporan keuangan per tengah tahun 2026. Sementara itu, jumlah investor ritel terus meluas, di mana identitas investor (SID) tercatat mencapai 33,36 juta per 26 Oktober 2026, atau tumbuh 63,94% secara tahun berjalan.

Pergeseran ke Aset Alternatif

Menariknya, ketika pasar saham mengalami koreksi dalam, sektor industri pengelolaan investasi justru menunjukkan stabilitas yang mengesankan. Sebagai bentuk pergeseran aset atau diversifikasi di tengah volatilitas, minat investor terhadap instrumen reksadana tetap bertahan kuat.

  • Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana tercatat sebesar Rp640,05 triliun per 27 Oktober 2026, tumbuh 0,44% secara mtd.
  • Industri reksadana membukukan net subscription sebesar Rp14,11 triliun sepanjang Oktober 2026 (mtd).

Bukan hanya dari sisi ritel, dari sisi korporasi penghimpunan dana di pasar modal juga tetap ramai. Hingga 28 Oktober 2026, total penghimpunan dana tercatat sebesar Rp202 triliun, yang didominasi oleh efek bersifat utang atau sukuk dengan nilai Rp50,43 triliun. Friderica menutup laporannya dengan optimisme yang terukur, menegaskan bahwa fundamental emiten BEI tetap solid di balik fluktuasi harga indeks, yang menjadi modal kuat untuk pemulihan pasar ke depan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ