Jejak Evolusi Mimpi: Studi Terkini Konfirmasi Latah Lompat (*Portia fimbriata*) Memiliki Fase Tidur Mirip REM

- Penemuan terbaru dari biologi perilaku di Universitas Bonn mengindikasikan bahwa kemampuan bermimpi mungkin memiliki akar evolusi yang jauh lebih tua dari yang dipahami sebelumnya.
- Temuan ini, yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences , menantang asumsi bahwa perilaku kompleks otak seperti mimpi hanya ditemukan pada vertebrata.
- Para peneliti mencatat bahwa Portia fimbriata merupakan invertebrata yang sangat cerdas untuk seekor laba-latah, karena mampu berburu laba-latah lain dan mengatur taktik predatoriknya.
Penemuan terbaru dari biologi perilaku di Universitas Bonn mengindikasikan bahwa kemampuan bermimpi mungkin memiliki akar evolusi yang jauh lebih tua dari yang dipahami sebelumnya. Penelitian yang dipimpin oleh Nadja Geiger dan Daniela RΓΆΓler menemukan bahwa laba-latah lompat berbulu (*Portia fimbriata*) mengalami dua fase tidur berbeda, salah satunya menyerupai fase rapid eye movement (REM) yang pada manusia dikaitkan dengan mimpi vivid. Temuan ini, yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences, menantang asumsi bahwa perilaku kompleks otak seperti mimpi hanya ditemukan pada vertebrata.
Para peneliti mencatat bahwa Portia fimbriata merupakan invertebrata yang sangat cerdas untuk seekor laba-latah, karena mampu berburu laba-latah lain dan mengatur taktik predatoriknya. Selama observasi malam, spesimen ini tidur terbalik di bawah rumah sutra mereka, mengaktifkan episode gerakan retina dan kedutan kaki yang singkat. Dalam sepuluh spesimen uji, durasi episode mirip REM ini rata-rata berlangsung sekitar 83 detik. Yang menarik, respons laba-latah terhadap stimulus akustik menjadi lebih lambat selama fase ini dibandingkan saat mereka terjaga, menunjukkan adanya perubahan status kesadaran.
Eksperimen Gangguan Tidur dan Respons Kompensasi Biologis
Untuk membedakan apakah gerakan ini hanya sekadar mode 'layar penghemat' atau sebuah proses biologis aktif, tim melakukan tes intervensi dengan memasukkan puluhan lalat buah ke dalam kandang pengujian. Keributan dari lalat tersebut mengganggu tidur laba-latah. Hasilnya, setelah malam yang tidak tenang, durasi tidur total mereka memanjang, dan waktu total fase mirip REM melonjak dari sekitar sembilan menit menjadi 17 menit. Lonjakan waktu pemulihan ini menunjukkan adanya kebutuhan biologis yang diatur, bukan sekadar aktivitas pasif, mirip dengan mekanisme kompensasi pada mamalia.
Implikasi Filosofis: Apakah Laba-latah Benar-Benar Bermimpi?
Studi ini mengingatkan bahwa peneliti hanya mengukur perilaku fisik, bukan aktivitas otak secara langsung. Namun, temuan ini selaras dengan riset 2023 tentang gurita yang menunjukkan pola kulit berubah cepat saat tidur, serta studi 2017 tentang ubur-ubur yang memiliki keadaan serupa tidur. Para ahli spekulasi bahwa fase mimpi mungkin berfungsi untuk
- mengurutkan dan memperkuat memori.
- mensimulasikan respons terhadap situasi mengancam dalam lingkungan aman.
- menjadi produk sampingan dari aktivitas otak yang berguna.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Anthropic Rilis FlashProve: Bukti Kriptografi untuk Memastikan Identitas Model AI

Data Center AI Beralih ke Mesin Jet Bekas Demi Kecepatan Listrik
