IHSG Menguat 0,58% di Tengah Pemilu Sela AS dan Anjloknya Harga Minyak
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (3/11/2026) di zona hijau dengan penguatan 0,58% ke level 5.126,53 .
- Kenaikan 29,70 poin ini menandai pemulihan pasar modal domestik di tengah volatilitas global yang ditopang oleh sentimen positif terkait anjloknya harga minyak mentah dunia.
- Data dari RTI menunjukkan aktivitas pasar yang stabil dengan nilai transaksi mencapai Rp575,75 miliar pada pagi hari, melibatkan 1,539 miliar lembar saham yang diperdagangkan sebanyak 89.458 kali.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (3/11/2026) di zona hijau dengan penguatan 0,58% ke level 5.126,53. Kenaikan 29,70 poin ini menandai pemulihan pasar modal domestik di tengah volatilitas global yang ditopang oleh sentimen positif terkait anjloknya harga minyak mentah dunia. Data dari RTI menunjukkan aktivitas pasar yang stabil dengan nilai transaksi mencapai Rp575,75 miliar pada pagi hari, melibatkan 1,539 miliar lembar saham yang diperdagangkan sebanyak 89.458 kali. Dari jumlah tersebut, dominasi saham yang menguat tercatat dengan 296 emiten hijau, berbanding 172 emiten merah dan 171 saham stagnan.
Pasar keuangan Indonesia hari ini dipengaruhi oleh dinamika kompleks, di mana jatuhnya harga minyak global diharapkan menjadi katalis positif bagi rupiah dan APBN, sementara risiko geopolitik dari pemilu Amerika Serikat tetap menjadi bayangan yang menekan sentimen investor. Dari dalam negeri, investor menanti hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang dinilai krusial untuk memberikan arah kebijakan di tengah gejolak global. KSSK diharapkan mampu meredam kekhawatiran publik terkait kejatuhan pasar modal Indonesia yang secara bulanan tercatat melemah 17,56%, serta dampak aturan baru pasar modal.
Dinamika Global: Pemilu Sela AS dan Kestabilan Harga Energi
Sentimen eksternal utama hari ini berasal dari penyelenggaraan Pemilu Sela AS 2026 yang menjadi taruhan besar bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik. Di saat yang bersamaan, harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 7% menyusul harapan berakhirnya konflik antara AS, Israel, dan Iran. Minyak Brent ditutup turun 7,63% ke US$104,77 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 7,36% ke US$96,46 per barel. Anjloknya harga energi ini menjadi kabar baik bagi Indonesia sebagai negara importir neto, karena berpotensi mengurangi tekanan inflasi dan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Presiden Iran Pezeeshkian menyatakan kesediaan menyelesaikan konflik melalui dialog, sebuah sinyal yang turut didengar oleh Trump terkait potensi kesepakatan damai. Di sisi lain, data PMI Manufaktur China versi RatingDog menunjukkan ekspansi ekonomi yang berlanjut meski melandai tipis menjadi 52,0 pada Oktober 2026. Angka ini masih melampaui ekspektasi pasar dan menandai bulan ke-11 berturut-turut aktivitas manufaktur tumbuh, didorong oleh peningkatan pesanan baru dan permintaan ekspor.
Harapan pada Kebijakan Domestik dan KSSK
Para analis dan pelaku pasar kini menaruh harapan besar pada hasil Rapat KSSK yang juga mengumumkan kajian data inflasi domestik. Di tengah tekanan yang membuat IHSG tercatat minus 32,30% secara enam bulanan, pernyataan tegas dari otoritas keuangan dinilai vital untuk memulihkan kepercayaan investor. KSSK dituntut memberikan kepastian arah kebijakan sektor keuangan agar pasar dapat bergerak lebih stabil ke depan.
- Pemilu Sela AS: Demokrat berpeluang merebut kendali Kongres seiring menurunnya popularitas Trump akibat tekanan biaya hidup.
- Harga Minyak: Brent anjlok 7,63% dan WTI turun 7,36% berimbas positif bagi APBN Indonesia.
- Dalam Negeri: KSSK mengungkap kajian sistem keuangan kuartal III dan aturan baru pasar modal.
- Ekspor China: Permintaan ekspor meningkat meski laju pertumbuhan melandai dibandingkan bulan sebelumnya.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

KSPI Tekan Pemerintah: Naikkan Batas Bebas Pajak JHT ke Rp400 Juta, Ajukan Dasar Emas

LPS Ungkap 14 BPR dan BPRS Tumbang di 2026: Lemahnya Tata Kelola Jadi Biang Kerok Utama

Respons Emiten Affiliates Salim & Sinar Mas: Nyalakan Lampu Kuning Pasca Pemanggilan Bos Sawit oleh Singapura
