BI: Transaksi Mata Uang Lokal Melonjak 2x Lipat Jadi US$52,6 M, Kuatkan Ketahanan Eksternal RI
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Gubernur BI, Destry Damayanti , menegaskan komitmen regulator untuk terus memperkuat implementasi mekanisme ini guna mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dolar AS dalam aktivitas ekonomi internasional.
- Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Kuartal III-2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026), Destry mengungkapkan bahwa perkembangan transaksi LCT menunjukkan tren positif yang solid.
- Peningkatan volume transaksi ini tidak hanya sekadar angka statistik, melainkan indikator meningkatnya kepercayaan mitra dagang terhadap stabilitas Rupiah dan mata uang negara mitra lainnya.
Bank Indonesia (BI) mencatatkan akselerasi signifikan dalam pemanfaatan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) dengan tujuh negara mitra, yang nilainya melonjak menjadi US$52,6 miliar sepanjang Januari-September 2026. Pencapaian ini menunjukkan pertumbuhan lebih dari dua kali lipat dibandingkan total transaksi sepanjang 2025 yang tercatat sebesar US$25,7 miliar, menandai pergeseran penting dalam pola perdagangan dan investasi lintas negara. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan komitmen regulator untuk terus memperkuat implementasi mekanisme ini guna mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dolar AS dalam aktivitas ekonomi internasional.
Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Kuartal III-2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026), Destry mengungkapkan bahwa perkembangan transaksi LCT menunjukkan tren positif yang solid. Peningkatan volume transaksi ini tidak hanya sekadar angka statistik, melainkan indikator meningkatnya kepercayaan mitra dagang terhadap stabilitas Rupiah dan mata uang negara mitra lainnya. BI menilai bahwa ekspansi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang semakin tinggi.
Ekspansi Mitra & Tren Transaksi
Adopsi LCT kini sudah menjangkau tujuh negara mitra strategis yang memiliki peran besar dalam jaringan perdagangan Indonesia. Kerja sama ini dirancang untuk memfasilitasi konversi langsung antar mata uang lokal, sehingga efisiensi biaya transaksi dapat dioptimalkan. Tujuh negara mitra yang telah menerapkan kerja sama LCT dengan Indonesia antara lain:
- Malaysia dan Singapura sebagai tetangga ASEAN dengan volume perdagangan tinggi.
- Thailand, yang aktif dalam rantai pasok industri regional.
- China dan Jepang, dua raksasa ekonomi Asia yang menjadi magnet investasi utama.
- Korea Selatan, mitra kuat di sektor teknologi dan manufaktur.
- Uni Emirat Arab, sebagai mitra penting dalam perdagangan energi dan jasa.
Destry menambahkan, BI akan terus memperluas cakupan dan efisiensi sistem ini. "BI akan terus memperkuat implementasi dari Local Currency Transaction, di mana saat ini sudah diimplementasikan kepada tujuh negara mitra," ujar Destry. Pernyataan ini menegaskan bahwa infrastruktur pembayaran lintas negara berbasis mata uang lokal menjadi prioritas utama kebijakan moneter dan fiskal terkini.
Dampak Ekonomi & Ketahanan Sektor Eksternal
Lonjakan nilai transaksi LCT menjadi penopang penting bagi stabilisasi ekonomi domestik. Dengan mengurangi fraksi konversi mata uang asing, pelaku usaha dapat menekan biaya operasional dan risiko fluktuasi nilai tukar, yang berdampak langsung pada daya sait produk Indonesia di pasar global. Di sisi lain, diversifikasi penggunaan mata uang ini membantu memitigasi risiko sistemik, terutama saat sentimen pasar keuangan global mengalami volatilitas tinggi yang sering kali memicu defisit neraca transaksi berjalan.
Secara implikasi, penguatan LCT juga mendorong integrasi ekonomi yang lebih dalam dengan mitra strategis, menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih resilien. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih stabil dan inklusif, menjadikan Indonesia sebagai hub perdagangan yang kompetitif. Keberhasilan mencapai nilai US$52,6 miliar hanya dalam sembilan bulan menunjukkan bahwa inisiatif ini bukan hanya wacana kebijakan, tetapi telah bertransformasi menjadi praktik standar dalam interaksi ekonomi Indonesia dengan dunia.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

KSPI Tekan Pemerintah: Naikkan Batas Bebas Pajak JHT ke Rp400 Juta, Ajukan Dasar Emas

LPS Ungkap 14 BPR dan BPRS Tumbang di 2026: Lemahnya Tata Kelola Jadi Biang Kerok Utama

Respons Emiten Affiliates Salim & Sinar Mas: Nyalakan Lampu Kuning Pasca Pemanggilan Bos Sawit oleh Singapura
