PANDI Akselerasi Digitalisasi 26 Aksara Nusantara untuk Kedaulatan Domain Internet
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI) secara resmi mengakselerasi upaya digitalisasi 26 aksara Nusantara dengan memproses pengembangan nama domain berbasis huruf lokal, seperti aksara Jawa, Sunda, dan Bali. Inisiatif strategis ini dirancang untuk memastikan kekayaan linguistik dan budaya Indonesia memiliki representasi konkret dalam infrastruktur internet global, sejalan dengan visi kedaulatan digital nasional. Ketua PANDI, Isnawan Aslan, menegaskan bahwa integrasi aksara lokal ke dalam ekosistem nama domain adalah langkah krusial agar identitas budaya Indonesia tidak terpinggirkan oleh dominasi huruf Latin.
Menjawab Kesenjangan Teknologi dan Budaya
Isu ini mencuat dalam forum diskusi 'Kedaulatan Digital Indonesia, Realistis atau Utopis?' yang digelar di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta, pada Jumat (30/10). Dalam kesempatan tersebut, Isnawan mengungkapkan fakta bahwa hingga saat ini, tidak satu pun dari 26 aksara Nusantara yang telah terdaftar secara resmi dalam sistem nama domain. Ia membandingkan situasi tersebut dengan Malaysia yang telah lebih dahulu mendaftarkan nama domain menggunakan aksara Jawi, sehingga Indonesia perlu bergerak cepat agar tidak tertinggal dalam perkembangan identitas digital global.
Donisi pengembangan ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis teknologi, tetapi juga pada upaya preservasi identitas budaya. PANDI berharap kemunculan nama domain menggunakan aksara Jawa, Bali dengan huruf Pananjara, dan aksara lokal lainnya dapat menjadi sarana vital untuk mempertahankan warisan budaya di era digital.Isnawan menekankan bahwa tanpa upaya digitalisasi yang sistematis, kekayaan aksara ini dikhawatirkan akan perlahan menghilang dari penggunaan masyarakat, khususnya oleh generasi muda yang hidup di era internet.
Menjaga Kedaulatan Budaya Nasional
Sebagai penutup, PANDI mengajak kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan seluruh aksara Nusantara mendapat tempat yang layak dalam ekosistem digital. Langkah ini dipandang sebagai bagian integral dari strategi mempertahankan kedaulatan budaya Indonesia di tengah persaingan teknologi global. Dengan menggeser aksara lokal ke dalam domain digital, Indonesia tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga mengukuhkan posisi budaya di panggung internasional.
BERITA TERKAIT (Teknologi)
China Capai Momen Historis: Data Inferensi AI Melampaui Data Pelatihan

Gang Peretas Bobol Sekali Waktu Billboard Digital di Lima Negara, Tampilkan Konten Pornografi

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Chip Merah Putih, Ekosistem Desain dan Riset Jadi Fokus Utama
