Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Kontras Ekonomi Korut: Gelombang Restoran Mewah di Tengah Krisis Pangan

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Kontras Ekonomi Korut: Gelombang Restoran Mewah di Tengah Krisis Pangan
BAGIKAN:

Korea Utara tengah memicu diskusi tajam mengenai disparitas sosial melalui kemunculan lebih dari selusin restoran *bulgogi* mewah yang bermunculan sejak September 2026. Keberadaan tempat makan bergaya barbeku bertingkat ini muncul di tengah ironi ketahanan pangan, di mana data menunjukkan lebih dari 40% populasi di negara tersebut masih berjuang mengatasi masalah kekurangan gizi. Restoran-restoran baru ini tidak hanya hadir sebagai tempat makan, tetapi sebagai penanda pergeseran tren kuliner yang mencolok di bawah kepemimpinan Kim Jong Un.

Fasilitas Mewah dan Peran Propaganda

Fasilitas yang ditawarkan oleh restoran-restoran ini jauh melampaui standar biasa, mencakup teras tepi perairan, meja marmer dengan pemanggang tertanam, serta menu eksklusif yang memuat daging sapi, babi, hingga burung unta. Media pemerintah secara masif mempromosikan pembukaan cabang-cabang penting, seperti di Sinuiju yang berbatasan dengan Tiongkok dan Pyongsong, dengan perayaan kembang api yang meriah. Para analis menilai langkah ini bukan sekadar pengembangan bisnis, melainkan strategi propaganda untuk memproyeksikan citra kemakmuran nasional dan menunjukkan komitmen pemerintah dalam menyediakan fasilitas kelas atas bagi warganya.

Di balik kemewahan visual tersebut, realitas ekonomi di tanah air Korea Utara tetap memprihatinkan. Lee Ae-Ran, seorang pembelot yang kini mengelola restoran di Seoul, mengingatkan bahwa akses terhadap makanan seperti daging sapi pernah sangat terbatas karena ternak lebih diprioritaskan untuk kerja pertanian. Ia menegaskan bahwa restoran kelas atas merupakan kemewahan yang hanya bisa dinikmati segelintir elite, bahkan pernah mengharuskan transaksi menggunakan mata uang asing di Pyongyang. Hal ini menggarisbawahi adanya dua dunia yang berbeda: lapisan atas yang terhubung dengan jaringan perdagangan global dan lapisan bawah yang masih rentan pangan.

Data Ekonomi dan Ancaman Krisis

Dari sisi makroekonomi, Korea Utara melaporkan pertumbuhan 3,5% pada tahun 2025, menandai tahun ketiga berturut-turut di atas 3%. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan impor daging dari Tiongkok yang melonjak empat kali lipat menjadi hampir 39 juta dolar AS. Namun, data dari World Food Programme (WFP) menunjukkan bahwa produksi dalam negeri belum mampu menutupi permintaan dasar, dengan estimasi 10,7 juta warga atau lebih dari 40% populasi masih mengalami kekurangan gizi pada data 2022. Situasi ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tercatat belum terdistribusi secara merata ke semua lapisan masyarakat, menciptakan celah yang tajam antara fasilitas publik mewah dan kebutuhan pokok yang belum terpenuhi.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ