Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BRIN Pemodelkan Dampak Karhutla pada Kesehatan Warga via Data Satelit dan Atmosfer

TeknologiReza AdityaReza AdityaSumber: Detik Inet
Reza Aditya
Reza Aditya
Pakar Teknologi

Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

BRIN Pemodelkan Dampak Karhutla pada Kesehatan Warga via Data Satelit dan Atmosfer
BAGIKAN:

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini diakui tidak hanya melukai ekosistem, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat melalui diseminasi asap dan partikel polutan. Peneliti dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PR MB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Marcellinus Mandira Budi Utomo, menegaskan bahwa paparan tersebut dapat membahayakan warga yang bahkan tinggal jauh dari titik api. Melalui kajian di Kalimantan, ia mengintegrasikan teknologi data satelit dengan pemodelan atmosfer untuk mengukur potensi dampak kesehatan secara kuantitatif. Pendekatan iniζ—¨εœ¨ melihat keterkaitan antara aktivitas kebakaran yang terdeteksi sensor satelit, estimasi konsentrasi partikulat halus PM2,5, serta distribusi populasi dan data mortalitas dasar di wilayah terdampak.

Metodologi Pemodelan dan Dampak Ekonomi

Kajian ini menggabungkan berbagai parameter data untuk memetakan risiko kesehatan yang tidak selalu terlihat secara langsung. Marcellinus mengingatkan bahwa hasil model ini merupakan estimasi berbasis sains dan tidak boleh disalahartikan sebagai angka kematian aktual yang sepenuhnya terbukti disebabkan oleh karhutla. Namun, data ini sangat penting untuk memperkuat strategi mitigasi, seperti peringatan dini dan perlindungan kelompok rentan. Dari sisi ekonomi, pakar kehutanan Krystof Obidzinski dari European Forest Institute menyoroti bahwa karhutla mengganggu target *net sink* karbon Indonesia pada 2030 serta berdampak negatif pada produksi, ketenagakerjaan, dan kepercayaan investor. Oleh karena itu, penanganan kebakaran memerlukan alokasi anggaran yang memadai dan pembagian tanggung jawab yang jelas antara pemerintah pusat dan daerah.

Integrasi Data Wilayah Adat dan Tata Kelola Lokal

Forum Sharing Session Karhutla yang diselenggarakan oleh PR MB BRIN dan Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) juga menyoroti pentingnya integrasi data spasial dengan aturan lokal. Kasmita Widodo dari Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) membandingkan titik panas (*hotspot*) dengan wilayah adat terdaftar untuk memahami persebaran kebakaran. Meskipun perbandingan data ini tidak serta-merta membuktikan hubungan sebab-akibat atau menyalahkan pihak tertentu, hal ini krusial untuk pengelolaan wilayah yang lebih tepat. Selain itu, manajemen sumber daya bersama (*common-pool resources*) dan tata kelola air di tingkat komunitas harus ditingkatkan kapasitasnya agar pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada pemantauan dari luar, tetapi juga memanfaatkan pemahaman kondisi lokal yang dimiliki masyarakat.

Kepala PR MB BRIN, Aulia Hadi, berharap sinergi lintas disiplin ini dapat menghasilkan *policy brief* yang komprehensif bagi perumusan kebijakan negara. Dengan menggabungkan perspektif teknologi pemodelan, antropologi, dan ilmu kehutanan, Indonesia dapat merancang strategi penanganan karhutla yang lebih holistik. Strategi ini tidak hanya fokus pada pemadukan api, tetapi juga pada pencegahan berbasis data, perlindungan kesehatan masyarakat, serta penguatan tata kelola wilayah untuk keberlanjutan lingkungan nasional.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸