BPS: Harga Beras Naik di Seluruh Rantai Distribusi, Premium Melonjak 11,32 Persen
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan harga beras secara signifikan di seluruh rantai distribusi, mulai dari tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran pada Oktober 2026. Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, menjelaskan bahwa rata-rata harga beras di tingkat penggilingan naik 0,26 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Kenaikan ini semakin mencolok saat dilihat dari sudut pandang tahunan (year-on-year/yoy), di mana harga melonjak sebesar 6,89 persen. Data ini menunjukkan tren inflasi yang konsisten pada komoditas pokok tersebut di seluruh wilayah Indonesia.
Rincian Kenaikan Harga Berdasarkan Kualitas dan Tingkat Distribusi
Secara lebih terperinci, disparitas harga terlihat jelas berdasarkan kualitas beras. Beras premium di tingkat penggilingan mencatatkan kenaikan 0,01 persen secara bulanan, namun melonjak drastis sebesar 11,32 persen secara tahunan. Sebaliknya, beras medium mengalami kenaikan 0,35 persen secara bulanan dan 5,57 persen secara tahunan. Tren kenaikan ini tidak berhenti di hulu; BPS mencatat inflasi beras di tingkat grosir mencapai 0,01 persen secara bulanan dan 5,13 persen secara tahunan. Di ujung rantai distribusi, tingkat eceran menunjukkan inflasi 0,08 persen secara bulanan dan 4,10 persen secara tahunan pada Oktober 2026.
Rata-rata Harga Nasional dan Implikasi Data BPS
Rata-rata harga beras nasional pada Oktober 2026 tercatat mencapai Rp15.765 per kilogram (kg) di tingkat eceran. Angka ini didahului oleh harga di tingkat grosir yang berada di kisaran Rp14.994 per kg, serta harga di tingkat penggilingan sebesar Rp14.365 per kg. Ateng Hartono menegaskan bahwa data yang dirilis merupakan agregat dari berbagai jenis kualitas beras yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. "Sebagai informasi yang biasa saya juga sampaikan, harga beras yang kami sampaikan merupakan harga rata-rata beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia," ujar Ateng dalam konferensi pers BPS pada Senin (2/11). Data ini menjadi acuan penting bagi pemerintah dan pelaku pasar dalam memonitor stabilitas harga pangan domestik.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

JB Syariah Klarifikasi Dugaan Hilangnya 2,2 Kg Emas Nasabah: Tak Ada Fasilitas Deposito, Sempat Gadai Lunas Sejak 2013

Direktur Utama Blue Bird Borong 675.800 Saham BIRD Senilai Hampir Rp1 Miliar untuk Perkuat Pengendalian

Emtek Resmikan Penjualan Saham Indopay Merchant Services, Fokus Optimalisasi Portofolio Investasi
