108 Sumur Dalam Ubah Nasib Desa Kaliwedi Jadi Lumbung Pangan Sragen
Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

- Perubahan drastis ini mengangkat produktivitas pertanian dari panen sekali setahun menjadi tiga kali setahun, dengan rata-rata produksi melonjak dari 7,5 ton menjadi 22,5 ton per hektare dalam satu tahun.
- Keberhasilan ini sejalan dengan capaian produksi beras Jawa Tengah yang mencapai 397.014 ton pada 2025, menempatkan Sragen sebagai salah satu penghasil padi terbesar di provinsi tersebut.
- Sebelumnya, 90 persen warga Desa Kaliwedi menggantungkan hidup dari pertanian lahan tadah hujan yang rawan gagal panen.
Desa Kaliwedi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, kini bertransformasi dari desa tertinggal menjadi lumbung pangan strategis berkat pembangunan 108 sumur dalam yang mengubah keterbatasan air menjadi surplus produksi. Perubahan drastis ini mengangkat produktivitas pertanian dari panen sekali setahun menjadi tiga kali setahun, dengan rata-rata produksi melonjak dari 7,5 ton menjadi 22,5 ton per hektare dalam satu tahun. Keberhasilan ini sejalan dengan capaian produksi beras Jawa Tengah yang mencapai 397.014 ton pada 2025, menempatkan Sragen sebagai salah satu penghasil padi terbesar di provinsi tersebut.
Sebelumnya, 90 persen warga Desa Kaliwedi menggantungkan hidup dari pertanian lahan tadah hujan yang rawan gagal panen. Kondisi ekonomi sulit dirasakan langsung oleh para petani yang dulu menghadapi kelangkaan sandang dan pangan. Kini, infrastruktur air yang memadai telah menghapus status desa tertinggal yang bertahan hingga tahun 2018, menggantikan dengan label Desa Mandiri yang stabil.
Strategi Investasi Air Sejak 2015
Inisiatif ini berawal dari kepemimpinan Kepala Desa Daryono sejak Desember 2013, yang mengidentifikasi ketersediaan air sebagai hambatan utama. Belajar dari Kabupaten Ngawi, pemerintah desa memulai pembangunan sumur dalam pada 2015. Meskipun biaya per unit diperkirakan mencapai Rp70 juta, kajian menunjukkan satu sumur dapat mengairi empat hingga lima hektare lahan. Dana digalang melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) setelah konsultasi dengan masyarakat, memastikan keberlanjutan investasi infrastruktur irigasi tersebut.
Pemerintah Desa tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan dana pinjaman untuk memperluas jangkauan irigasi. Pembangunan massal ini memastikan lahan-lahan kering sebelumnya menjadi sawah produktif sepanjang tahun, mengurangi risiko iklim yang dulu sering menyebabkan kegagalan panen total.
Dari Krisis Pangan ke Surplus Produksi
Dampak nyata dari transformasi ini terlihat pada peningkatan kesejahteraan petani. Sutarno, seorang petani paruh baya, membuktikan peningkatan tersebut melalui lahan seluas dua hektare yang kini panen lebih dari 15 ton per musim. Ia membandingkan masa lalu yang sulit dengan kondisi saat ini yang menyiratkan rasa syukur.
- Produktivitas naik signifikan dari 7,5 ton menjadi 22,5 ton per hektare per tahun.
- Frekuensi panen bertambah dari sekali menjadi tiga kali dalam setahun.
- Luas lahan terairi mencapai sekitar 250 hektare berkat 108 sumur dalam.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Polri Tetapkan Tiga Perwira Tersangka Dugaan Penyadapan Ilegal, Presiden Prabowo Diketahui Disadap Sejak 2025

NTP Rekor 132,60 Jadi Bukti Swasembada Pangan Bisa Menyejahterakan Petani

PNM Tanam 5.850 Bibit Pohon Endemik di Tujuh Wilayah untuk Pulihkan Ekosistem
