Gaji Standar Nasional Tak Sebanding Biaya Hidup, Milan Alami Kekosongan Ribuan Kursi Guru
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Lonjakan harga sewa hunian di Milan memaksa ribuan tenaga pendidik meninggalkan kota termahal di Italia tersebut. Tanpa adanya penyesuaian upah khusus untuk wilayah metropolitan, para guru kini menghadapi tekanan finansial yang berujung pada tingginya angka kekosongan posisi mengajar menjelang tahun ajaran baru.
Kesenjangan Upah dan Biaya Hunian
Tenaga pengajar di pusat mode Eropa ini menerima besaran penghasilan yang setara dengan rekan mereka di desa-desa kecil kawasan selatan Italia. Merujuk data konsultan pendidikan Docenti.it, rentang gaji guru secara nasional berada pada kisaran 1.350 hingga 2.000 euro per bulan. Angka tersebut terpaut tipis jika dibandingkan beban sewa tempat tinggal di Milan yang rata-rata menyentuh 700 euro per bulan untuk satu kamar saja, berdasarkan catatan portal properti Idealista.
- Gaji guru di Italia tercatat berkisar antara 1.350 hingga 2.000 euro setiap bulan.
- Rata-rata biaya sewa satu kamar di Milan mencapai sekitar 700 euro per bulan.
- Dari total 4.300 lowongan guru di wilayah metropolitan Milan, sekitar seperlima di antaranya masih kosong.
Giovanni Pavesi (43), seorang pengajar musik, menyebut beban sewa sebagai hambatan terbesar bagi tenaga pendidik yang baru merintis karier. Situasi ini memicu tingkat perpindahan pegawai yang tinggi di berbagai sekolah setempat.
Eksodus Pendidik dan Tekanan Ekonomi Nasional
Data serikat pekerja CISL menunjukkan bahwa wilayah metropolitan Milan memiliki 4.300 posisi guru yang tersedia sebelum tahun ajaran dimulai. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi dari keseluruhan 37.000 lowongan secara nasional, namun sekitar seperlimanya gagal terisi karena minimnya minat pelamar. Bahkan, sejumlah guru yang telah diterima memilih mengajukan mutasi ke daerah lain.
Massimiliano Matteri (49) menjadi salah satu contoh nyata fenomena ini. Pengajar sastra Italia dan sejarah tersebut memutuskan angkat kaki setelah tiga tahun menempati apartemen studio berukuran sempit di pinggiran Milan. Ia memilih pindah tugas ke Livorno di pesisir Tuscany, membeli hunian yang lebih layak, dan merasakan perbaikan kondisi keuangan.
Krisis tenaga pendidik di Milan sesungguhnya mencerminkan persoalan struktural yang lebih luas, yakni stagnasi upah yang menjadi tantangan serius bagi pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni menjelang pemilihan nasional tahun depan. Catatan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mengungkapkan bahwa upah riil Italia, setelah disesuaikan dengan inflasi, justru lebih rendah dibandingkan tahun 1990. Dari lebih 20 negara maju yang dipantau, hanya Italia yang mengalami kemunduran semacam itu.
Sementara itu, data Eurostat menempatkan Italia sebagai negara dengan penurunan daya beli paling tajam di Uni Eropa selama lima tahun terakhir. Akumulasi frustrasi atas mahalnya biaya hidup, rendahnya upah, serta menurunnya kualitas layanan publik mendorong serikat pekerja USB mengorganisasi demonstrasi dan pemogokan di berbagai wilayah pada Jumat (30/10/2026). Ketidakpuasan serupa sebelumnya juga sempat memicu kerusuhan di Milan pada bulan ini, ketika kelompok yang didominasi anak muda merusak jendela, menjarah toko, hingga menyerang aparat kepolisian.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Catat 23 UKM Siap IPO di 2027 Setelah Ikuti Program Pendampingan

Rapat Koordinasi Kemenko Perekonomian Bahas Percepatan Implementasi Kredit Perempuan Prasejahtera dan Penurunan Bunga Pinjaman

BEI Resmi Keluarkan Saham HSC dari IHSG, Pasar Diprediksi Stabil Tanpa Gejolak
