Exit Poll Pemilu Israel: Blok Eisenkot Unggul Tipis, Ancaman Kebuntuan Politik Mengintai
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Proyeksi hasil pemungutan suara sementara pemilihan parlemen Israel memperlihatkan keunggulan tipis blok oposisi yang dipimpin mantan kepala militer Gadi Eisenkot atas koalisi Perdana Menteri petahana Benjamin Netanyahu. Perolehan awal ini langsung memicu peringatan keras dari Eisenkot agar isu keamanan negara tidak dijadikan alat tawar politik oleh kubu petahana.
Anggaran Kursi dan Potensi Jalan Buntu
Data hitung cepat yang dirilis sejumlah saluran televisi lokal pada Selasa (27/10) menempatkan kubu Eisenkot di posisi terdepan dengan proyeksi 53 kursi parlemen. Selisihnya sangat tipis dibandingkan faksi Netanyahu yang diperkirakan mengamankan 50 kursi. Karena ambang batas mayoritas mutlak berada di angka 61 kursi, kedua kekuatan politik utama tersebut sama-sama gagal mencapai target pembentukan pemerintahan secara mandiri.
Kunci penentu mayoritas kini bertumpu pada partai-partai Arab yang diproyeksikan meraup sekitar 17-18 kursi. Persoalannya, baik kubu oposisi maupun koalisi petahana belum menunjukkan kesediaan untuk menjalin kerja sama dengan faksi tersebut. Situasi ini membuka peluang terbentuknya pemerintahan minoritas yang rapuh karena harus bergantung pada dukungan partai di luar koalisi, atau bahkan memaksa Israel menggelar putaran pemilu lanjutan apabila negosiasi pascapemilu menemui jalan buntu.
- Blok oposisi pimpinan Eisenkot diproyeksikan meraih 53 kursi, mengungguli blok Netanyahu yang mendapat 50 kursi.
- Tidak ada satu pun kubu yang mencapai ambang mayoritas 61 kursi tanpa melibatkan partai-partai Arab pemilik proyeksi 17-18 kursi.
- Eisenkot menolak gagasan pemilu putaran berikutnya menyusul tingginya tingkat partisipasi pemilih.
Pesan Keras Eisenkot kepada Netanyahu
Menanggapi perolehan suara sementara tersebut, Eisenkot menyimpulkan bahwa masyarakat Israel telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Netanyahu, khususnya terkait penanganan peristiwa 7 Oktober. Dalam pernyataan yang dikutip AFP pada Selasa (27/10), ia menilai hasil hitung cepat itu merepresentasikan ketidakpuasan publik secara menyeluruh terhadap kinerja pemerintahan saat ini.
Pada Rabu (28/10) pagi, Eisenkot kembali menegaskan bahwa tingginya animo pemilih mencerminkan keinginan kuat warga untuk melihat perubahan arah kebijakan negara. Ia sekaligus menyampaikan pesan bernada ancaman terselubung agar Netanyahu menahan diri dari upaya memanfaatkan sektor pertahanan demi kepentingan elektoral. Eisenkot secara eksplisit meminta sang perdana menteri petahana untuk tidak berani mempermainkan keamanan nasional sebagai kendaraan politik.
Mantan panglima militer tersebut juga menutup rapat kemungkinan digelarnya pemilu ulang. Menurutnya, kehendak rakyat yang sudah disuarakan melalui tingkat partisipasi tinggi akan ternodai apabila proses demokrasi harus diulang hanya karena kegagalan elite politik dalam membangun kesepakatan koalisi.

