Pengangguran Mei 2026 Turun ke 4,65%, Mendekati Rekor Terendah Tiga Dekade Lalu
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Angka pengangguran di Indonesia terus menyusut hingga menyentuh level 4,65% pada Mei 2026, sebuah capaian yang posisinya nyaris menyamai rekor terendah tiga dekade silam. Kendati tren tersebut menandakan perbaikan kondisi makroekonomi, tantangan nyata masih membayangi karena sekitar 7,22 juta orang belum berhasil masuk ke pasar kerja.
Dinamika Penyerapan Tenaga Kerja
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total angkatan kerja nasional pada periode tersebut mencapai 155,41 juta orang. Dari keseluruhan jumlah itu, sebanyak 148,19 juta orang tercatat telah memiliki pekerjaan. Jika dibandingkan dengan data Februari 2026 yang mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,68%, terjadi penurunan tipis sebesar 0,03 poin persentase dalam kurun waktu tiga bulan.
Pergerakan positif ini juga terlihat dari penambahan volume angkatan kerja maupun penduduk yang terserap lapangan kerja. BPS merinci bahwa sepanjang periode tersebut, angkatan kerja bertambah sekitar 497 ribu orang, sementara jumlah penduduk bekerja melonjak lebih tinggi, yakni sekitar 522 ribu orang.
- TPT Mei 2026 berada di angka 4,65%, turun dari 4,68% pada Februari 2026.
- Total angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang dengan 148,19 juta orang berstatus bekerja.
- Sisa penduduk yang belum terserap pasar kerja berjumlah sekitar 7,22 juta orang.
- Pencapaian ini mendekati level TPT terendah era 1994 yang berada di posisi 4,36%.
Konteks Historis dan Langkah Pemerintah
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menilai capaian saat ini sangat signifikan mengingat skala angkatan kerja modern jauh lebih besar. Juru bicara kementerian tersebut, Haryo Limanseto, menjelaskan bahwa jumlah angkatan kerja sekarang hampir dua kali lipat dibandingkan era 1990-an yang hanya berkisar 83,32 juta orang. Sebagai gambaran lintasan historis, TPT sempat membengkak hingga 11,24% pada 2005 dan berada di level 7,07% ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020.
Haryo menyatakan bahwa penyusutan angka pengangguran ini mencerminkan keberhasilan berbagai program pendorong sektor riil serta investasi dalam memenuhi kebutuhan pasar kerja. Menurutnya, pemerintah secara rutin memantau dinamika ketenagakerjaan sebagai barometer utama kesejahteraan masyarakat sekaligus tolok ukur efektivitas kebijakan ekonomi.
Meski demikian, pihak Kemenko Perekonomian mengingatkan bahwa tren penurunan ini bukan berarti seluruh persoalan ketenagakerjaan telah tuntas. Penciptaan lapangan kerja baru tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi perekonomian nasional mengingat jutaan orang masih menganggur. Oleh karena itu, Haryo menegaskan bahwa fokus pemerintah tidak berhenti pada upaya menjaga TPT tetap rendah, melainkan juga mencakup peningkatan kualitas tenaga kerja melalui penguatan pelatihan vokasi, program upskilling, serta optimalisasi utilisasi industri agar penyerapan pekerja berdampak langsung terhadap taraf hidup masyarakat.


