Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Andalkan Dukungan Trump untuk Lanjutkan Tekanan terhadap Iran
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pemungutan suara pemilu Israel yang berlangsung pada Selasa (27/10) diwarnai manuver politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang secara terbuka menjadikan sokongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai modal utama kampanyenya. Ia menegaskan bahwa kemenangan dalam kontestasi tersebut menjadi syarat mutlak agar Washington dan Tel Aviv bisa melanjutkan operasi militer bersama guna menekan Iran.
Iming-iming Aliansi Militer dan Pesan Langsung Trump
Dalam sebuah siaran televisi pada Minggu (25/10), Netanyahu memaparkan klaimnya mengenai kedekatan personal dengan Trump yang dianggap belum pernah terjadi sebelumnya antara seorang pemimpin Israel dan presiden AS. Ia meyakini tingkat persahabatan semacam itu akan sulit terulang di masa mendatang, mengingat sisa masa jabatan Trump di Gedung Putih tinggal dua tahun lagi.
Bukan sekadar retorika diplomatik, Netanyahu juga menyebutkan adanya kesiapan dari pihak AS untuk mengambil langkah-langkah yang diklaim mampu melumpuhkan Iran secara total. Namun, ia menekankan bahwa rencana besar tersebut hanya bisa dieksekusi apabila dirinya tetap menduduki kursi perdana menteri. Sebagai bukti keseriusan, Netanyahu menyatakan telah memerintahkan badan intelijen Mossad serta militer IDF untuk bergerak menjatuhkan rezim di Teheran.
Dukungan tersebut tidak berjalan sepihak. Melalui unggahan di media sosial, Trump secara eksplisit meminta warga Israel memilih sosok yang akrab disapa Bibi tersebut demi menuntaskan pekerjaan yang sudah mereka rintis bersama.
- Pemilu Israel diselenggarakan pada 27/10 dengan Netanyahu memanfaatkan dukungan Trump sebagai daya tarik utama.
- Netanyahu mengklaim telah menginstruksikan Mossad dan IDF untuk menargetkan rezim Iran.
- Gedung Putih memastikan blokade penuh di Selat Hormuz tetap berlaku, namun menepis serangan militer sebelum 3 November.
- Trump pertama kali mendeklarasikan dukungannya kepada Netanyahu pada 18 Oktober lalu.
Sikap Gedung Putih dan Batas Waktu Serangan
Menanggapi pernyataan keras Netanyahu, Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Anna Kelly memberikan penjelasan yang lebih terukur. Kelly mengakui kondisi ekonomi dan militer Iran saat ini sedang berada di titik yang sangat buruk. Ia juga memastikan kebijakan blokade menyeluruh di Selat Hormuz tidak akan dicabut.
Meski demikian, Kelly menetapkan garis batas waktu yang jelas terkait opsi militer. Menurutnya, AS sama sekali tidak akan melancarkan serangan ke Iran sebelum pelaksanaan pemilihan paruh waktu yang dijadwalkan pada 3 November.
Sementara itu, ketika ditanya awak media apakah Netanyahu sempat mengajukan permintaan dukungan secara langsung, Trump memberikan jawaban yang berbeda. Ia menyatakan tidak pernah membicarakan hal tersebut dan menegaskan bahwa pemberian dukungan pada 18 Oktober maupun setelahnya merupakan inisiatif pribadinya. Trump menilai sang perdana menteri telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik di tengah situasi yang penuh tantangan.


