BRIN Kejar Percepatan Tiga Tahun Riset Vaksin Malaria Atas Arahan Prabowo
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini membidik penyelesaian riset vaksin malaria lebih awal dari jadwal semula, menyusul instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto. Kepala BRIN Arif Satria menyatakan bahwa dukungan penuh kepala negara terhadap proses produksi memungkinkan target tersebut dipangkas hingga tiga tahun lebih cepat.
Lima Kandidat Vaksin dan Tantangan Parasit Lokal
Proses penelitian yang tengah berlangsung saat ini telah mengerucutkan sekitar lima hingga enam kandidat vaksin potensial. Arif menjelaskan bahwa kolaborasi lintas lembaga turut dilibatkan dalam pengerjaan proyek ini, mencakup Kementerian Kesehatan hingga Bio Farma. Langkah percepatan tersebut disampaikan Arif di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (27/10).
Tantangan utama dalam riset ini terletak pada karakteristik parasit yang beredar di wilayah Indonesia. Menurut Arif, salah satu jenis parasit, yakni Plasmodium vivax, belum memiliki vaksin yang berhasil ditemukan secara global. Keberhasilan memproduksi vaksin untuk varian tersebut di dalam negeri diharapkan mampu menjadi sumbangsih nyata Indonesia bagi kesehatan masyarakat internasional, sejalan dengan harapan Presiden Prabowo agar hasil riset ini dapat dimanfaatkan secara luas di berbagai negara.
- Target penyelesaian riset dipercepat hingga tiga tahun dari jadwal awal.
- Terdapat lima hingga enam kandidat vaksin potensial yang sedang diteliti.
- Kolaborasi melibatkan Kemenkes dan Bio Farma.
- Fokus riset menyasar parasit Plasmodium vivax yang belum memiliki vaksin di tingkat global.
Dorongan Kemandirian Obat Melalui Potensi Fitofarmaka
Selain memacu riset vaksin, Prabowo juga menyoroti urgensi kemandirian obat nasional serta besarnya potensi pengobatan herbal di Indonesia. Merespons arahan tersebut, BRIN tengah mengakselerasi pengembangan obat herbal melalui kerja sama dengan berbagai pihak terkait.
Arif merinci bahwa saat ini terdapat 19 kandidat obat herbal di lingkungan BRIN yang disiapkan untuk naik kelas menjadi fitofarmaka. Sebagian produk masih berstatus sebagai Obat Herbal Terstandarisasi (OHT). Untuk mencapai status fitofarmaka—yakni obat berbahan alam yang keamanan serta khasiatnya telah terbukti secara ilmiah melalui uji praklinik pada hewan maupun uji klinik pada manusia—BRIN tengah menjalankan serangkaian uji klinis dengan koordinasi bersama Kemenkes dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

