Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Peringatkan Ancaman Iran Sambil Berjuang Amankan Kursi Parlemen
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengklaim menerima informasi intelijen mengenai potensi serangan dari Iran beserta jaringan proksinya yang ditargetkan untuk mengacaukan pemilihan umum Israel pada Selasa (27/10). Pernyataan tersebut disampaikan melalui video resmi pada Minggu, bersamaan dengan upaya kerasnya mempertahankan posisi politik di tengah tren elektabilitas yang merosot.
Peringatan Keras dan Narasi Nuklir
Dalam rekaman tersebut, Netanyahu menegaskan kesiapan militer negaranya untuk menjalankan operasi pertahanan sekaligus melancarkan serangan balasan. Ia meminta pihak lawan agar tidak menguji kekuatan Israel karena akan menghadapi respons yang jauh lebih berat. Klaim ancaman ini diperkuat dengan narasi bahaya eksistensial apabila Teheran berhasil mengembangkan senjata nuklir, yang menurutnya bakal mengubah situasi secara permanen.
Sebelum merilis pernyataan video itu, Netanyahu turut mempublikasikan gambar hasil kecerdasan buatan yang menyerupai ledakan bom nuklir. Langkah ini sejalan dengan pola kampanyenya yang terus-menerus mengangkat isu keamanan nasional serta mengklaim berbagai tindakannya selama ini sebagai upaya penyelamatan negara.
- Pemilu Israel dijadwalkan berlangsung pada Selasa (27/10).
- Netanyahu mengklaim memiliki data intelijen soal rencana gangguan dari Iran dan proksinya.
- Partai politik wajib melewati ambang batas 3,25 persen untuk meraih kursi parlemen.
- Jajak pendapat menunjukkan penurunan dukungan terhadap Partai Likud dan Netanyahu.
Manuver Politik di Tengah Elektabilitas Menurun
Di balik peringatan keamanan tersebut, terdapat realitas politik yang menekan kubu Netanyahu. Hasil jajak pendapat memperlihatkan tingkat keterpilihan dirinya maupun Partai Likud mengalami penurunan sepanjang masa kampanye. Kondisi ini mendorong langkah taktis berupa desakan agar partai-partai berhaluan kanan yang diproyeksikan gagal menembus ambang batas 3,25 persen bersedia menarik diri dari kontestasi.
Strategi pengunduran diri partai kecil tersebut dirancang untuk membuka peluang bagi Partai Likud mendominasi perolehan kursi di Knesset. Penguasaan parlemen menjadi kunci utama bagi koalisi pendukungnya untuk kembali menempatkan Netanyahu sebagai perdana menteri.
Sementara itu, catatan tiga tahun terakhir justru memperlihatkan rentetan konflik bersenjata yang melibatkan Israel di berbagai front. Agresi militer ke Jalur Gaza memicu serangan balasan beruntun, diikuti eskalasi dengan Hizbullah di Lebanon, konfrontasi langsung dengan Iran, pertempuran melawan kelompok milisi di Suriah dan Irak, hingga bentrokan dengan Houthi. Rangkaian peristiwa tersebut menempatkan warga Israel dalam situasi rawan menjelang hari pemungutan suara.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Hasil Pemilu Israel: Survei Ditolak, Partai Arab Dipertanyakan Asing

Suhu Politik Global Memanas: Iran Siaga, Sorotan Dampak Pemilu Israel-AS dan Isu Elektoral India

Politikus Demokrat Dukung Kandidat Republik, Perebutan Kursi Senat AS Semakin Sengit
