Film Clayface Tuai Pujian Kritikus atas Paduan Horor Brutal dan Romansa Tragis
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Film Clayface, yang dijadwalkan tayang mulai 21 Oktober, mendapat sambutan positif dari sejumlah kritikus dan jurnalis yang telah menontonnya lebih dulu. Menurut rangkuman Variety pada 14 Oktober, film ini merupakan karya ketiga yang dirilis di bioskop dalam semesta DC Universe (DCU) baru besutan James Gunn dan Peter Safran.
Berbeda dari pendekatan film superhero pada umumnya, Clayface mengangkat kisah asal-usul Matt Hagen, seorang aktor Hollywood yang diperankan oleh Tom Rhys Harries. Dalam cerita tersebut, Hagen berubah menjadi sosok mengerikan setelah menjalani perawatan eksperimental. Di komik DC, Clayface dikenal sebagai salah satu musuh Batman dari Gotham City yang memiliki kemampuan mengubah bentuk tubuh dan wajahnya.
Kritikus Peter Gray menilai nuansa komik dalam film garapan sutradara James Watkins itu tidak mengurangi tingkat kebrutalannya. Ia menyebut film ini gelap dan penuh kekerasan, namun tetap menyisipkan kelucuan untuk mengimbangi sisi mengerikannya. Gray juga memuji penampilan Harries yang menghadirkan pesona kekanak-kanakan sekaligus ancaman yang tenang.
Sementara itu, kritikus Brandon Davis menyoroti cara Watkins mengeksplorasi kemampuan karakter utama serta penggambaran Gotham yang meresahkan. Davis menyebut film tersebut menghadirkan gagasan yang tidak biasa melalui momen-momen gelap dan menyimpang, serta menganggap Harries tampil luar biasa dalam perannya.
Sejumlah komentator lain turut memuji keseimbangan genre yang ditawarkan. HeyChalice menyatakan bahwa Clayface adalah salah satu film horor terbaik tahun ini karena berhasil memadukan unsur horor dan romansa secara sempurna, dengan naskah yang ditulis oleh Mike Flanagan. Chris Killian menambahkan bahwa film ini mengolah kisah tragis masa lalu Hagen menjadi tontonan body horror berdarah, sekaligus menjadi penghormatan bagi era film romansa gotik klasik.
Pendekatan terhadap karakter penjahat juga mendapat sorotan khusus. Komentator ConorVille08 mengapresiasi keputusan DC untuk mempertahankan kisah penjahat yang tragis tanpa mengubahnya menjadi karakter antihero. Di sisi lain, MovieZine menggambarkan film ini sebagai perpaduan antara Joker dan The Substance di latar Gotham City, dengan adegan-adegan intens yang terkadang terasa konyol. DCU Brief mencatat adanya perubahan nada cerita dari suasana suram menuju sesuatu yang nyeleneh dan penuh warna.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Angga Dwimas Sasongko Proyeksikan Krisis Industri Film: Produksi Melonjak, Penonton Anjlok

Lolox Ungkap Kesedihan Kehilangan Ayah di Gala Premiere Film GAK ADA MATINYA

Ashanty Bangga Arsy Ikut MUN 2026, Warisi Bakat Diplomasi Mendiang Kakek
