8 Film Komedi Bertema Perebutan Kekuasaan, dari Parodi Sejarah hingga Intrik Kantor
Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Perebutan kekuasaan kerap menjadi tema berat dalam sinema, namun sejumlah film mengemasnya lewat komedi satire dan humor gelap. Menurut rangkuman yang disusun KapanLagi, delapan film berikut menggunakan dinamika konflik politik maupun hierarki sosial sebagai bahan lelucon untuk membongkar sisi absurd ambisi manusia.
Dua di antaranya disutradarai oleh Armando Iannucci, yang dikenal melalui karya satire politiknya seperti serial Veep dan The Thick of It. Film The Death of Stalin, yang diadaptasi dari novel grafis karya Fabien Nury dan Thierry Robin, berlatar di Uni Soviet pada tahun 1953 setelah diktator Joseph Stalin meninggal dunia akibat stroke. Peristiwa tersebut memicu kepanikan dan perebutan posisi di antara para menteri, termasuk tokoh Nikita Khrushchev yang diperankan Steve Buscemi serta Lavrentiy Beria oleh Simon Russell Beale. Sementara itu, In the Loop menyoroti pertarungan pengaruh antara kubu pro-perang dan anti-perang di pemerintahan Inggris dan Amerika Serikat menjelang invasi militer di Timur Tengah, dengan karakter Malcolm Tucker (Peter Capaldi) sebagai pusat manipulasi narasi publik.
Kritik terhadap penguasa tirani juga hadir dalam The Great Dictator, mahakarya Charlie Chaplin yang memparodikan kediktatoran Adolf Hitler. Chaplin memainkan dua peran sekaligus: tukang cukur Yahudi yang amnesia dan diktator Adenoid Hynkel dari negara fiktif Tomania. Konflik semakin kocak ketika Hynkel bertarung ego dengan diktator negara tetangga, Benzino Napaloni.
Ketegangan Perang Dingin diubah menjadi komedi hitam oleh Stanley Kubrick melalui Dr. Strangelove or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb. Ceritanya bermula saat seorang jenderal militer AS memerintahkan serangan nuklir sepihak ke Uni Soviet. Para pejabat tinggi, termasuk Presiden Merkin Muffley dan mantan ilmuwan Nazi Dr. Strangelove, berkumpul di War Room untuk mencegah kiamat, namun justru terjebak dalam ego sektoral. Peter Sellers tampil memainkan tiga karakter berbeda dalam film ini.
Intrik istana abad ke-18 diangkat dalam The Favourite garapan sutradara Yorgos Lanthimos. Di tengah perang dengan Prancis, Ratu Anne (Olivia Colman) memegang takhta, tetapi kekuasaan riil dikendalikan Lady Sarah Churchill (Rachel Weisz). Kedatangan Abigail Masham (Emma Stone), sepupu Sarah yang jatuh miskin, mengguncang dominasi tersebut melalui manipulasi emosional demi mengamankan status sosialnya.
Perebutan kendali tidak hanya terjadi di panggung negara, melainkan juga di lingkungan kerja dan sekolah. Office Space karya Mike Judge mengangkat realitas mikromanajemen korporat melalui karakter programmer Peter Gibbons (Ron Livingston) yang bersikap apatis setelah sesi hipnosis gagal, namun justru dinilai sebagai calon pemimpin oleh konsultan perusahaan. Manajer Bill Lumbergh digambarkan mewakili tekanan kekuasaan tingkat menengah. Di skala yang lebih kecil, Election arahan Alexander Payne menceritakan pemilihan Ketua OSIS di Carver High School. Tracy Flick (Reese Witherspoon) merasa berhak menang tanpa lawan, hingga guru sejarah Jim McAllister (Matthew Broderick) secara rahasia merekrut kandidat tandingan untuk menghalanginya.
Daftar ini ditutup oleh Don't Look Up, satire fiksi ilmiah karya Adam McKay. Dua astronom tingkat bawah yang diperankan Leonardo DiCaprio dan Jennifer Lawrence menemukan komet raksasa yang mengarah ke bumi. Namun, peringatan mereka kepada Presiden AS Janie Orlean (Meryl Streep) justru ditanggapi berdasarkan kalkulasi pemilu, di mana pemerintah dan oligarki media memanfaatkan ancaman bencana global demi elektabilitas dan keuntungan finansial.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Bioskop Trans TV Perkenalan Civil War (2024) di Layar Kaca, Hadirkan Rangkaian Film Aksi dan Horor 2-8 November 2026

Angga Dwimas Sasongko Proyeksikan Krisis Industri Film: Produksi Melonjak, Penonton Anjlok

Lolox Ungkap Kesedihan Kehilangan Ayah di Gala Premiere Film GAK ADA MATINYA
