14 Siswi SMPN 10 Tangsel Diduga Dicekoki Minuman Racikan, Tiga Korban Dirawat di Rumah Sakit
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Sekitar 14 siswi kelas 8 SMP Negeri 10 Tangerang Selatan di Ciputat diduga menjadi korban perundungan dan pemerasan oleh sejumlah kakak kelas mereka. Insiden ini melibatkan pemaksaan mengonsumsi minuman berisi campuran bahan tertentu yang mengakibatkan tiga di antara para korban harus menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Menurut keterangan Setiawan, salah satu orang tua korban, minuman racikan tersebut dipaksa masuk ke tubuh belasan siswi itu. Berdasarkan informasi dari sesama siswa, cairan yang diberikan mengandung cuka, bawang putih, dan kopi. Namun, pihak keluarga menduga terdapat campuran bahan berbahaya lain karena reaksi sakit perut parah yang dialami para korban hingga memerlukan penanganan medis mendalam.
Selain intimidasi fisik berupa pemaksaan minum, para pelaku yang merupakan siswa kelas atas juga diduga melakukan pemerasan. Setiawan menyebutkan bahwa anak-anak dimintai uang dengan nominal bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000.
Kepolisian Sektor Ciputat Timur, Polres Tangerang Selatan, telah menerjunkan tim penyidik untuk menindaklanjuti dugaan kasus tersebut. Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq menyatakan pada Sabtu (24/10) bahwa personel kepolisian sudah mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan serta verifikasi awal ke pihak sekolah guna memastikan akurasi data.
Pihak kepolisian mendorong kerja sama antara manajemen sekolah dan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Tangerang Selatan untuk mengumpulkan detail kronologi kejadian. Bambang menegaskan bahwa aparat siap melayani apabila keluarga korban memutuskan menempuh jalur hukum, termasuk membuka kemungkinan pelibatan Unit PPA Satreskrim Polres Tangerang Selatan jika laporan resmi dibuat oleh orang tua.
Sementara itu, para orang tua korban telah dikumpulkan dalam rapat pembahasan bersama pihak sekolah. Meski demikian, Setiawan menyatakan kekecewaannya karena hingga saat ini belum ada sanksi tegas maupun langkah konkret dari manajemen sekolah terhadap para terduga pelaku yang membuat orang tua merasa tenang.


