Perbedaan Tikus dan Curut: Cara Membedakan hingga Risiko Penyakit bagi Penghuni Rumah
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Tikus dan curut kerap dianggap sebagai hewan yang sama karena ukuran tubuhnya yang kecil serta kebiasaannya beraktivitas di dalam rumah pada malam hari. Padahal, keduanya berasal dari kelompok taksonomi yang berbeda dan membawa tingkat risiko kesehatan yang tidak setara bagi penghuni rumah.
Tikus merupakan hewan pengerat atau rodensia dari famili Muridae, dengan nama ilmiah umum Rattus norvegicus untuk tikus got dan Rattus rattus untuk tikus rumah. Sementara itu, curut atau cecurut termasuk dalam famili Soricidae, yaitu kelompok mamalia pemakan serangga yang kekerabatannya justru lebih dekat dengan landak mini dibandingkan tikus, merujuk penjelasan KapanLagi.com yang dirangkum pada Jumat (23/10/2026).
Perbedaan fisik paling mencolok terletak pada bentuk moncong dan struktur gigi. Tikus memiliki moncong pendek dengan gigi depan besar yang terus tumbuh sepanjang hidupnya, sehingga hewan ini harus rutin mengerat benda keras agar giginya tidak memanjang berlebihan. Sebaliknya, curut bermoncong panjang dan runcing dengan mata kecil serta tubuh lebih ramping. Gigi curut berukuran kecil dan berujung kemerahan akibat kandungan zat besi pada emailnya, serta tidak memiliki kebiasaan mengerat.
Pola makan kedua hewan ini juga menentukan cara penanganan jika mereka bersarang di rumah. Tikus tergolong omnivora yang memakan hampir semua jenis makanan manusia, mulai dari biji-bijian hingga sisa makanan di dapur. Curut bergantung pada protein hewani dan lebih banyak berburu serangga, cacing, serta hewan kecil lainnya.
Dari sisi potensi bahaya, pakar hama Dyno-Pest dari Inggris menyebutkan bahwa tikus berpotensi membawa penyakit seperti Hantavirus dan Leptospirosis melalui bulu, kotoran, maupun air liurnya. Tikus juga diketahui dapat menularkan pes dan demam gigitan tikus lewat kontak dengan urine atau gigitannya. Di sisi lain, beberapa jenis curut, seperti curut berekor pendek, memiliki air liur beracun yang digunakan untuk melumpuhkan mangsa menurut EBSCO Research Starters.
Meski memiliki racun, secara umum curut dinilai tidak berbahaya bagi manusia. Critter Control menjelaskan bahwa gigitan sebagian curut mengandung racun sehingga hewan ini sebaiknya tidak dipegang sembarangan, tetapi dampaknya jarang berakibat fatal dan biasanya hanya memicu reaksi alergi ringan. Dengan demikian, tikus lebih berisiko menularkan penyakit serius dalam jangka panjang, sedangkan curut menimbulkan efek gigitan langsung yang sifatnya lebih ringan.
Untuk mencegah kedua hewan ini masuk ke rumah, sejumlah langkah praktis dapat diterapkan secara konsisten. Celah pada dinding, ventilasi, dan saluran pipa perlu ditutup rapat menggunakan semen, kawat kasa, atau dempul khusus. Bahan makanan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat agar aroma tidak mengundang tikus maupun serangga yang menjadi mangsa curut. Selain menjaga kebersihan area dapur dan gudang dari tumpukan barang, tanaman di sekitar rumah sebaiknya dipangkas agar tidak menjadi jalur persembunyian. Jika populasi hewan sudah cukup banyak, pemasangan perangkap di titik-titik rawan atau penggunaan jasa pengendalian hama profesional bisa dilakukan.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Bioskop Trans TV Perkenalan Civil War (2024) di Layar Kaca, Hadirkan Rangkaian Film Aksi dan Horor 2-8 November 2026

Angga Dwimas Sasongko Proyeksikan Krisis Industri Film: Produksi Melonjak, Penonton Anjlok

Lolox Ungkap Kesedihan Kehilangan Ayah di Gala Premiere Film GAK ADA MATINYA
