Kilang RDMP Balikpapan Alami Kendala Teknis, Bahlil Minta Perbaikan Dipercepat

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Sumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Kilang RDMP Balikpapan Alami Kendala Teknis, Bahlil Minta Perbaikan Dipercepat
BAGIKAN:

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta agar kendala teknis pada operasional kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan segera diperbaiki. Menurut keterangan Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/10/2026), ia telah meninjau langsung kondisi lapangan dan menemukan sejumlah masalah fasilitas produksi yang membuat output beberapa jenis produk migas belum berjalan maksimal.

Kendala tersebut terjadi setelah proyek bernilai US$ 7,4 miliar atau setara Rp123 triliun ini diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/1/2026). Meskipun berstatus sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikelola PT Pertamina Patra Niaga, proses perbaikan komponen bermasalah diminta tidak sampai menunda target optimalisasi kilang secara keseluruhan.

Sebelumnya, peresmian kilang terbesar di Indonesia ini menandai peningkatan kapasitas pengolahan dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari dengan kualitas Euro V. Bahlil saat itu menyatakan bahwa pengoperasian penuh RDMP Balikpapan berpotensi menghemat devisa lebih dari Rp60 triliun karena menghentikan impor BBM solar, sekaligus meningkatkan produksi RON 92, 95, dan 98 untuk kebutuhan dalam negeri.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan bahwa proyek terintegrasi dari hulu hingga hilir ini mencakup pipa Senipah sepanjang 78 Kilometer, unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) untuk mengolah residu, serta terminal Tanjung Batu berkapasitas 125.000 KL dengan empat dermaga untuk distribusi ke Indonesia Timur.

Pengembangan kilang ini awalnya dimulai pada 2019 dan sempat mengalami perlambatan akibat pandemi COVID-19. Berdasarkan data yang disampaikan, total produksi tambahan berupa gasoline, diesel, avtur, LPG, dan propilena diproyeksikan mampu menurunkan nilai impor BBM hingga sekitar Rp68 triliun per tahun serta memberi kontribusi terhadap PDB nasional hingga Rp514 triliun.

Meow! Tanya Nesi!
😸