Kasus DBD di Jakarta Barat Turun Menjadi 1.808 Kasus hingga Pertengahan Oktober 2026

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat mencatat akumulasi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sebanyak 1.808 kasus sepanjang Januari hingga 15 Oktober 2026. Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Sahruna menyatakan, angka tersebut menunjukkan tren penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan data yang disampaikan Sahruna, Jakarta Barat pada 2025 mencatatkan jumlah kasus DBD tertinggi di seluruh wilayah DKI Jakarta, yakni mencapai 2.548 kasus hingga pertengahan Oktober. Puncak penularan pada tahun lalu terjadi pada bulan Mei dengan 362 kasus.
Untuk menjaga agar tren penurunan ini berlanjut, pihak Suku Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan menggencarkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Sahruna menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian penyakit ini tidak hanya bergantung pada langkah pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi warga dalam menjaga kebersihan lingkungan serta membasmi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Deteksi dini keberadaan jentik nyamuk disebut sebagai kunci utama untuk memutus rantai penularan. Dalam pelaksanaannya, petugas kesehatan mengutamakan peran aktif masyarakat secara mandiri sebagai Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di rumah masing-masing.
Seluruh puskesmas di wilayah Jakarta Barat saat ini terus memantau angka insiden dan kecepatan penularan DBD secara berkala. Petugas kesehatan di lapangan juga melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) setiap kali ditemukan kasus baru, bersamaan dengan penguatan Gerakan PSN 3M Plus.
Pemantauan vektor atau jentik DBD di kawasan permukiman turut digencarkan oleh puskesmas, yang dibarengi dengan peningkatan promosi kesehatan mengenai bahaya penyakit tersebut kepada masyarakat luas.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Siap-Siap, Warga Jawa dan Sumatra: BMKG Prediksi Hujan Ringan Landa Sebagian Besar Wilayah Hari Ini

Penambahan Daratan 32,8 Hektare di Sekitar Anak Krakatau Diverifikasi, Status 'Pulau Baru' Masih Menunggu Konfirmasi Lapangan

Fenomena Gerah di Indonesia: BMKG Jelaskan Penyebab Udara Lembap Meski Hujan Belum Rutin
