Pengendalian RKAB Dorong Harga Nikel Naik 15%, Ekspor RI Capai US$39,7 Miliar
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Pengendalian produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada 2026 berdampak langsung pada kenaikan harga komoditas tersebut di pasar global. Menurut data Dewan Ekonomi Nasional (DEN), rata-rata harga nikel di London Metal Exchange (LME) sepanjang Januari hingga Agustus 2026 tercatat mencapai US$17.494 per ton, naik 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan harga ini membuat nilai ekspor nikel Indonesia tetap tumbuh meski volume pengiriman menurun. Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto menyebutkan bahwa ekspor nikel hingga Agustus 2026 naik sekitar 17%, sementara volumenya justru turun sekitar 4%. Kondisi ini menunjukkan kebijakan pengendalian RKAB berjalan sesuai dua tujuan utamanya, yakni konservasi cadangan mineral sekaligus peningkatan nilai tambah ekspor.
Dampak penekanan produksi juga terlihat dari menyempitnya diskon harga produk antara olahan bijih nikel laterit atau Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) terhadap patokan LME. Berdasarkan keterangan Seto, selisih diskon tersebut menyusut dari 21% pada 2024 menjadi 10% pada 2026, yang menandakan produk nikel Indonesia semakin dihargai di pasar internasional.
Secara proyeksi tahunan, DEN memperkirakan total ekspor nikel Indonesia akan mencapai US$39,7 miliar pada 2026. Angka tersebut naik 28% dibandingkan capaian 2024, meskipun volume ekspor secara keseluruhan hanya bertambah 13%.
Peningkatan nilai ekspor ini berimbas pada penerimaan negara. Penyesuaian Harga Patokan Mineral (HPM) yang mulai berlaku pada April 2026 turut mendongkrak penerimaan dari penjualan bijih saprolite. Akibatnya, target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari subsektor nikel diperkirakan bakal melampaui sasaran yang ditetapkan untuk tahun ini.
Menurut Seto, pengendalian pasokan menjadi langkah krusial mengingat posisi Indonesia sebagai produsen dua pertiga nikel dunia. Tanpa kontrol tersebut, pasar berpotensi mengalami kelebihan pasokan yang dapat menjatuhkan harga komoditas.


