Iran Klaim Siapkan Senjata Baru di Tengah Eskalasi Ketegangan dengan AS dan Israel

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Sumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Iran Klaim Siapkan Senjata Baru di Tengah Eskalasi Ketegangan dengan AS dan Israel
BAGIKAN:

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan sedang menyiapkan senjata baru yang mereka juluki sebagai "bapak dari segala bom". Pernyataan juru bicara IRGC, Hossein Mohebi, pada Rabu (21/10/2026) itu disampaikan melalui kantor berita Young Journalists Club tanpa merinci jenis, kemampuan teknis, maupun jadwal peluncuran senjata tersebut.

Klaim ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan penggunaan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB). Bom konvensional non-nuklir berbobot sekitar 9.800 kilogram itu dijuluki "ibu dari segala bom" dan pertama kali digunakan militer AS pada April 2017 untuk menyerang kompleks terowongan ISIS di Afghanistan.

Selain menyebut persiapan senjata baru, Mohebi mengklaim persediaan rudal Iran meningkat 1,5 kali lipat setelah perang selama 12 hari melawan Israel pada Juni 2025. Menurut keterangan Mohebi yang dikutip Anadolu Agency, jangkauan, daya hancur, dan akurasi rudal tersebut juga mengalami peningkatan signifikan. Namun, ia tidak menyertakan angka pasti maupun data teknis untuk mendukung klaim itu.

Mohebi menambahkan bahwa Iran tengah mengubah doktrin pertahanannya menuju kemampuan pencegahan yang lebih kuat. Ia menegaskan bahwa jika ada negara yang menyerang, Iran tidak hanya akan membalas tetapi juga melancarkan serangan ofensif. Strategi perang asimetris disebut akan semakin diandalkan untuk menghadapi lawan yang memiliki keunggulan militer konvensional.

Eskalasi ketegangan antara Iran di satu pihak serta AS dan Israel di pihak lain tercatat pecah pada 28 Februari. Teheran merespons dengan melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Israel dan target militer AS di sejumlah negara Arab. Situasi ini memperbesar ketegangan di Timur Tengah karena melibatkan Selat Hormuz, jalur strategis bagi pasokan energi dunia.

Upaya diplomatik antara Washington dan Teheran dilaporkan menemui hambatan. Kedua pihak sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni dan melanjutkan negosiasi, tetapi pembicaraan tersebut gagal akibat perbedaan pandangan mengenai kebebasan navigasi dan keamanan di Selat Hormuz.

Meow! Tanya Nesi!
😸