El Nino Kuat Perlambat Rotasi Bumi, Durasi Satu Hari Bertambah 1 Milidetik
Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Fenomena El Nino kategori kuat yang tengah berlangsung di Samudra Pasifik tidak hanya memicu peningkatan suhu dan musim kemarau yang lebih kering. Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA), puncak El Nino kuat juga memperlambat rotasi Bumi sehingga durasi satu hari bertambah sekitar 1 milidetik.
Perubahan sebesar seperseribu detik ini cukup besar untuk diukur secara ilmiah, namun terlalu kecil untuk dirasakan manusia dalam aktivitas sehari-hari. Dengan durasi normal satu hari mencapai 86.400 detik, penambahan tersebut setara dengan satu per 100 juta bagian dari total waktu harian.
Perlambatan rotasi ini terjadi akibat perubahan pola angin global seiring menguatnya El Nino. Angin pasat di wilayah tropis Samudra Pasifik melemah, sementara angin yang bertiup dari barat ke timur di area yang lebih jauh dari garis khatulistiwa justru menguat. Kondisi tersebut mendistribusikan kembali momentum sudut, yakni energi rotasi yang terbagi antara Bumi dan atmosfernya. Untuk menjaga keseimbangan sistem secara keseluruhan, rotasi planet pun sedikit melambat.
NOAA menjelaskan prinsip ini serupa dengan gerakan penari balet yang berputar. Ketika penari merentangkan lengannya ke luar, putaran tubuhnya akan melambat. Sebaliknya, saat kondisi di Samudra Pasifik berubah menjadi fenomena La Nina, respons yang terjadi adalah kebalikannya. Rotasi Bumi sedikit lebih cepat dan durasi satu hari menjadi lebih pendek.
Selain El Nino, NASA menyatakan bahwa perubahan di atmosfer, lautan, air tanah, dan lapisan es turut memengaruhi rotasi Bumi dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Perubahan cuaca harian dan musiman menurut NASA dapat memengaruhi durasi satu hari hingga beberapa milidetik selama satu tahun.
Intensitas El Nino saat ini dilaporkan semakin menguat bahkan sebelum diperkirakan mencapai puncaknya pada Desember mendatang. Berdasarkan data Layanan Perubahan Iklim Uni Eropa Copernicus yang dikutip AFP pada Senin (12/10), suhu permukaan laut di wilayah pemantauan El Nino atau Nino3.4 mencapai 29,70 derajat Celsius pada bulan September. Angka tersebut merupakan titik tertinggi sepanjang masa dan melebihi suhu puncak peristiwa El Nino sebelumnya pada tahun 1982/1983, 1997/1998, serta 2015/2016.
Meski demikian, Copernicus menyatakan belum dapat sepenuhnya memastikan bahwa El Nino saat ini adalah yang terkuat yang pernah tercatat. Pengaruh perubahan iklim yang turut berkontribusi meningkatkan suhu laut mempersulit perbandingan historis, karena peristiwa El Nino baru-baru ini bisa jadi tampak lebih kuat daripada masa lalu akibat faktor pemanasan global lainnya.


