Dino Patti Djalal Bantah Tuduhan Singapura Konspirasi Jatuhkan Pasar Modal RI lewat MSCI

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Sumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Dino Patti Djalal Bantah Tuduhan Singapura Konspirasi Jatuhkan Pasar Modal RI lewat MSCI
BAGIKAN:

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Dino Patti Djalal, membantah tuduhan bahwa Singapura berkonspirasi menjatuhkan pasar modal Indonesia melalui lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurut Dino, dugaan sabotase tersebut sangat jauh dari realitas hubungan diplomatik kedua negara.

Dino menyatakan bahwa dalam kalkulasi politik kedua negara, tindakan semacam itu tidak memiliki tempat. Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) ini menegaskan bahwa hukumnya tabu dan haram bagi elite politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia, sebagaimana juga tabu bagi Indonesia untuk mencelakai Singapura. Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan di akun Instagram @dinopattidjalal pada Kamis (22/10).

Bantahan ini merespons tudingan mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang sebelumnya diunggah melalui akun Instagram @m.lutfi pada Senin (19/10). Lutfi menduga Singapura memanfaatkan institusi seperti Temasek dan GIC yang disebut memiliki pengaruh besar di MSCI untuk menekan klasifikasi pasar modal Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market). Menurut keterangan Lutfi, langkah itu bertujuan menjatuhkan harga saham agar investor asing dapat memborong saham RI dengan harga murah. Ia bahkan mengaku mendapat informasi langsung bahwa seorang petinggi GIC bernama Rachel Goh menekan MSCI agar peringkat Indonesia diturunkan.

Menanggapi dugaan tersebut, Dino menjelaskan bahwa Singapura memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas politik dan ekonomi Indonesia karena akan menjadi salah satu negara paling terdampak jika terjadi gejolak di Tanah Air. Ia mencatat rekam jejak kerja sama kedua negara yang sudah lama teruji, mulai dari bantuan saat bencana tsunami Aceh dan Nias pada 2004, krisis moneter, pandemi COVID-19, hingga kolaborasi investasi skala besar di kawasan industri Batam-Bintan dan Kendal.

Dino menilai kebijakan Singapura diarahkan untuk menjaga kerja sama dan saling percaya, bukan melakukan sabotase. Ia mengingatkan pepatah "sejuta kawan terlalu sedikit, satu lawan musuh terlalu banyak" dan menyebut akan sangat kontradiktif apabila Indonesia memperlakukan tetangga terdekatnya dengan penuh kecurigaan.

Terkait isu kabut asap yang masih berlangsung, Dino memandang situasi tersebut sebagai tolak ukur bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam berdiplomasi secara bijak menangani krisis kebakaran hutan. Ia merujuk pada penanganan bencana tsunami 2004 yang menurutnya justru membuat negara-negara lain kompak membantu di bawah komando Indonesia sekaligus meningkatkan kepercayaan dunia terhadap Jakarta.

Meow! Tanya Nesi!
😸