BMKG: Awal Musim Hujan Mundur Akibat El Nino, Puncak Diprediksi Desember-Februari
Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan di Indonesia akan mundur dari rata-rata klimatologisnya. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan keterlambatan ini dipicu oleh masih berlangsungnya musim kemarau yang bertepatan dengan fenomena El Nino kategori kuat.
Berdasarkan keterangan Faisal di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10), sebagian wilayah baru akan memasuki musim hujan pada November, sementara wilayah lainnya baru mengalaminya pada Desember. Kalimantan Tengah menjadi salah satu daerah perhatian utama BMKG saat ini. Sejumlah kawasan di provinsi tersebut diperkirakan mulai menerima hujan pada pertengahan November, sedangkan daerah lainnya baru masuk musim hujan pada akhir November.
Faisal menyebutkan bahwa kepekatan asap yang belum teratasi dikhawatirkan membuat jadwal awal hujan semakin mundur. Untuk mengantisipasi hal itu, BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC). Lembaga ini juga telah menguji coba kerja sama dengan Thailand guna membongkar lapisan inversi dan mengangkat asap agar curah hujan tidak tertunda lebih jauh.
Meski waktu kedatangannya terlambat, sifat curah hujan selama musim mendatang diperkirakan tetap normal. Menurut Faisal, volume hujan yang turun akan setara dengan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir. Namun, karena periode musim hujan kali ini lebih pendek, intensitas hujan lebat hingga ekstrem diproyeksikan lebih sering terjadi pada akhir tahun ini hingga awal tahun depan.
Dengan pola cuaca tersebut, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember, Januari, dan Februari. Faisal mengingatkan perlunya antisipasi dini terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir dan tanah longsor, seiring datangnya periode puncak curah hujan tersebut.


