ADB Rancang Pendanaan Rp3,93 Triliun untuk Perkuat 27 Laboratorium BPOM
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Asian Development Bank (ADB) sedang merancang program pendanaan senilai US$ 218 juta atau setara Rp 3,93 triliun berdasarkan kurs Rp 18.049/US$. Dana tersebut ditujukan untuk memperkuat kapasitas pengawasan serta memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap produk makanan dan obat-obatan yang aman dan berkualitas.
Menurut Direktur ADB untuk Indonesia Bobur Alimov, program ini merupakan prioritas pemerintah yang telah dipilih oleh Bappenas untuk dibiayai. Pendanaan akan disalurkan melalui skema Bolstering Product Oversight and Market Surveillance for Food and Drug Project (BPOM Project) yang menyasar perbaikan pada 27 laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Proyek ini dirancang untuk mendukung pelaksanaan Grand Design BPOM menuju Indonesia Emas 2045. Ruang lingkupnya mencakup pembangunan fisik, penyediaan peralatan laboratorium dan kantor, serta penerapan prinsip laboratorium ramah lingkungan (green) dan tangguh (resilient). Tujuannya adalah mengurangi kebutuhan rujukan sampel ke pusat sehingga waktu penyelesaian pengujian di tingkat lokal menjadi lebih cepat.
Selain infrastruktur fisik, program ini juga mencakup peningkatan sistem informasi digital. Langkah tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi pertukaran data, integrasi sistem, dan analisis big data guna mengoptimalkan pengawasan pasar berbasis risiko, termasuk pengawasan terhadap lokapasar daring. Kapasitas teknis dan manajerial staf BPOM juga akan diperkuat untuk menjalankan fungsi regulasi.
Salah satu lokasi yang akan segera menerima pendanaan adalah Balai Besar POM Makassar. Proyek di sana meliputi pembangunan green lab di atas lahan sekitar 3.300 m2, dengan rincian luas bangunan laboratorium 2.160 m2 dan gudang 600 m2. Kepala Balai Besar POM Makassar Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan menyatakan total biaya proyek mencapai Rp 50 miliar yang seluruhnya didanai dari program BPOM Project ADB.
Yosef menjelaskan bahwa rencana pembangunan laboratorium ini sebenarnya sudah disusun sejak 2024. Namun, pelaksanaannya tertunda pada 2025 dan 2026 akibat tantangan efisiensi anggaran dan automatic adjustment. Dengan adanya dukungan ADB, proyek dijadwalkan mulai berjalan pada kuartal III-2027 dan ditargetkan selesai pada 2028.
Fasilitas baru ini diharapkan meningkatkan kapasitas pengujian yang terintegrasi sekaligus menekan biaya operasional. Laboratorium tersebut juga direncanakan menjadi percontohan green laboratory tersertifikasi pertama di kawasan timur Indonesia, dilengkapi sistem pengelolaan limbah yang efisien serta standar kesehatan dan keselamatan kerja.


