Warga Talang Kelapa Sumsel Sulit Tidur Akibat Karhutla, 1.277 Hotspot Terdeteksi di Lahan Gambut
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah Talang Kelapa di perbatasan Kota Palembang dan Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, belum menunjukkan tanda-tanda akan padam hingga Rabu (21/10). Dampak dari bencana tahunan ini kini merembet langsung ke ruang tidur warga, memaksa mereka menahan kantuk di tengah deru sirine kendaraan pemadam kebakaran yang hilir mudik setiap malam.
Mirza Syahrani, seorang warga Talang Kelapa, Banyuasin, mengaku tingkat keresahannya terus meningkat seiring berlarut-larutnya penanganan api. "Hampir setiap hari saat kami tertidur pulas, kami dengar terus tiap malam suara bunyi sirine kebakaran," ujarnya kepada wartawan pada Rabu (21/10). Keluhan senada disampaikan oleh Eko, warga Talang Kelapa dari sisi Palembang, yang menegaskan bahwa waktu istirahatnya rutin terganggu akibat intensitas aktivitas pemadaman karhutla di sekitar permukiman.
Data resmi dari sistem pemantauan Sipongi Kementerian Kehutanan per 21 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB memperlihatkan skala krisis yang sesungguhnya. Tercatat sebanyak 1.277 titik panas atau hotspot tersebar di seluruh wilayah Sumatera Selatan. Dari jumlah tersebut, 857 titik berada di atas lahan gambut dan 420 titik lainnya berada di lahan mineral, mengindikasikan bahwa tantangan terbesar pemadaman terletak pada karakteristik tanah yang menyimpan bara api di kedalaman tertentu.
Kabupaten Banyuasin, yang menaungi sebagian besar wilayah Talang Kelapa, menjadi penyumbang titik panas terbesar kedua di provinsi ini dengan total 326 hotspot. Rinciannya mencakup 230 titik di lahan gambut dan 96 titik di lahan mineral. Sementara itu, Kota Palembang mencatat 12 titik panas yang mayoritas terkonsentrasi di zona perbatasan Talang Kelapa hingga Sukarami. Dalam sepekan terakhir, kawasan perbatasan ini memang telah bertransformasi menjadi klaster kebakaran paling aktif.
Kondisi geografis berupa dominasi lahan gambut, semak belukar, dan rawa-rawa yang mengering membuat api menjalar cepat dan sangat sulit ditaklukkan. Asap pekat yang dihasilkan tidak hanya membakar vegetasi, tetapi juga terbawa angin hingga menyelimuti Kota Palembang pada Rabu pagi. Jarak pandang warga kota menjadi terbatas, disertai bau asap menyengat yang memperburuk kualitas udara dan memicu potensi gangguan kesehatan pernapasan.
Analisis Redaksi
Berdasarkan pengamatan selama dua dekade meliput bencana ekologis di Sumatera, apa yang terjadi di Talang Kelapa bukan sekadar insiden musiman biasa, melainkan cerminan dari kegagalan tata kelola lahan gambut secara struktural. Tingginya proporsi hotspot di lahan gambut—mencapai lebih dari 67 persen dari total titik panas di Sumatera Selatan—menunjukkan bahwa upaya pencegahan melalui pembasahan ulang atau sekat kanal belum berjalan optimal di area perbatasan antar-kabupaten dan kota.
Dampak psikologis dan fisik terhadap warga, seperti hilangnya waktu tidur akibat bisingnya operasional pemadaman, kerap luput dari kalkulasi kerugian negara saat mengevaluasi dampak karhutla. Pemerintah daerah perlu menyadari bahwa evakuasi sementara atau penyediaan ruang istirahat yang layak bagi warga terdampak langsung harus menjadi bagian dari protokol darurat, bukan hanya fokus pada pemadaman api semata.
Selain itu, status Talang Kelapa sebagai wilayah perbatasan administratif antara Palembang dan Banyuasin sering kali menciptakan celah koordinasi dalam respons awal kebakaran. Tanpa adanya komando terpadu yang melampaui batas yurisdiksi kabupaten dan kota, klaster-klaster aktif seperti ini akan terus bermunculan setiap musim kemarau, mengorbankan kesehatan dan kewarasan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.


