Trump dan Vance Beda Sikap soal Dukungan untuk Netanyahu hingga Perang Iran
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance menunjukkan perbedaan sikap terkait dukungan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilu 27 Oktober, serta pandangan mereka mengenai perang dengan Iran.
Menurut laporan AFP yang dikutip CNN Internasional, Trump secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Netanyahu. Ia meyakini pemimpin Israel itu akan meraih kemenangan besar dan menyebutnya sebagai sosok yang diinginkan berada di pihaknya. Sebaliknya, Vance menegaskan tidak akan ikut campur dalam politik internal Israel dan memilih berfokus pada pemilihan paruh waktu di AS.
Perbedaan pandangan kedua pejabat tinggi AS itu juga terlihat dalam menyikapi konflik dengan Iran yang belum kunjung usai. Trump berulang kali melontarkan ancaman untuk menghancurkan Iran. Sementara itu, Vance sejak Juni lalu memperingatkan kabinet Netanyahu agar tidak merusak hubungan dengan Washington. Ia menekankan bahwa masalah keamanan nasional tidak bisa selalu diselesaikan melalui tindakan membunuh, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Vance bahkan menyebut Trump sebagai satu-satunya sekutu kuat yang masih dimiliki Israel saat ini. ABC News melaporkan bahwa Vance secara internal sempat menyatakan keberatan atas rencana serangan terhadap Iran pada akhir bulan lalu.
Merespons laporan tersebut, Trump mengakui adanya perbedaan pendekatan. Dalam konferensi pers di Florida pada Senin malam, ia menilai sikap mereka "secara filosofis sedikit berbeda" soal perang dengan Iran. Trump menganggap Vance kurang antusias untuk berperang dibandingkan dirinya, namun tetap membantah ada perselisihan dan mengklaim keduanya bergaul dengan baik dalam isu tersebut.
Sikap skeptis Vance terhadap intervensi militer asing sebenarnya telah terlihat sejak beberapa tahun lalu. Penelusuran TIME mencatat, pada awal 2023, Vance menulis opini di Wall Street Journal yang memuji kebijakan luar negeri Trump karena tidak memulai perang baru. Ia menyatakan hidupnya dibentuk oleh presiden-presiden yang menyeret Amerika ke dalam konflik yang gagal dimenangkan.
Meski mendukung Trump, Vance mengatakan kepada Washington Post bahwa ia tetap menjadi orang yang skeptis terhadap intervensi militer. Ia lebih menyukai opsi diplomatik, tetapi menegaskan bahwa langkah selanjutnya sangat bergantung pada apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Iran.


