Nusron Wahid Hadiri Sidang Kabinet Paripurna Usai Dua Kali Mangkir Pemeriksaan KPK

Hukum
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Nusron Wahid Hadiri Sidang Kabinet Paripurna Usai Dua Kali Mangkir Pemeriksaan KPK
BAGIKAN:

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid terlihat menghadiri Sidang Kabinet Paripurna (SKP) dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10). Kehadiran ini menjadi sorotan setelah publik mempertanyakan keberadaannya menyusul ketidakhadirannya dalam dua kali panggilan pemeriksaan oleh KPK.

Berdasarkan siaran langsung yang ditayangkan Sekretariat Presiden melalui kanal YouTube, Nusron tampak mengenakan peci hitam dipadukan dengan kemeja putih. Ia duduk di meja yang telah disediakan sesuai papan nama jabatannya. Namun, ia tidak terpantau melewati pintu pilar yang lazimnya digunakan para menteri dan pejabat Kabinet Merah Putih saat memasuki area sidang.

Sebelumnya, penyidik KPK menjadwalkan pemeriksaan terhadap Nusron sebagai saksi dalam kasus dugaan suap terkait pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) PT Summarecon Agung Tbk dan penerimaan lainnya di lingkungan Kementerian ATR/BPN. Pada pemanggilan pertama, Rabu (7/10), ia tidak hadir dengan alasan adanya agenda internal kementerian. Jadwal ulang pada Kamis (15/10) kembali terlewat karena ia pergi ke luar negeri.

Catatan Keimigrasian menunjukkan Nusron sempat mengunjungi Singapura dan Malaysia melalui perjalanan darat via Batam. Kondisi tersebut memicu KPK mengeluarkan ultimatum agar ia bersikap kooperatif dan memberikan keterangan sebenar-benarnya. Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan delapan tersangka, termasuk Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor I Sontang Coin Manurung, politikus Partai Golkar Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq, mantan Bupati Kebumen Arif Sugiyanto, serta Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk Adrianto Pitojo Adhi.

Empat tersangka lainnya adalah Dirjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang Kementerian ATR/BPN Lampri, Muhammad Fakhry, Erwin, dan Rizal Pahlevi. KPK secara spesifik menyebut Arif, Fahd, Erwin, dan Muhammad Fakhry sebagai orang kepercayaan Nusron. Seluruh tersangka kini ditahan di Rumah Tahanan Negara Cabang Gedung Merah Putih KPK. Kasus ini bermula dari Operasi Tangkap Tangan di wilayah Jabodetabek pada Senin (14/9), di mana 19 orang diamankan beserta barang bukti uang senilai Rp106,3 miliar.

Analisis Redaksi

Kehadiran Nusron Wahid di Sidang Kabinet Paripurna tanpa melewati pintu utama yang biasa digunakan para menteri memunculkan pertanyaan strategis mengenai manajemen komunikasi politik Istana. Langkah ini mengindikasikan adanya upaya untuk meminimalisasi eksposur visual yang berpotensi memicu tekanan publik lebih lanjut di tengah proses hukum yang sedang berjalan. Dalam pengalaman liputan investigasi selama dua dekade, pola pergerakan pejabat yang menghindari jalur protokol standar biasanya berkaitan erat dengan kalkulasi politik tingkat tinggi.

Posisi empat orang kepercayaan Nusron yang telah berstatus tersangka dan ditahan menempatkan sang menteri dalam situasi yang sangat rentan secara hukum maupun etika pemerintahan. Ultimatum yang dilayangkan KPK bukan sekadar prosedur administratif, melainkan sinyal kuat bahwa lembaga antirasuah tersebut memiliki dasar yang cukup untuk mendalami peran atau setidaknya kelalaian pengawasan di lingkaran terdekat menteri. Fakta bahwa barang bukti mencapai Rp106,3 miliar menunjukkan skala operasi yang terstruktur dan masif di tubuh kementerian.

Dari perspektif tata kelola negara, absennya seorang menteri dari panggilan penegak hukum sebanyak dua kali berturut-turut dengan alasan yang berubah-ubah merupakan preseden buruk bagi prinsip kesetaraan di hadapan hukum. Publik berhak menuntut transparansi penuh dari pemerintah terkait status Nusron dalam pusaran kasus suap HGB Summarecon ini, apakah murni sebagai saksi yang enggan kooperatif atau ada dinamika lain yang belum terungkap ke permukaan.

Meow! Tanya Nesi!
😸