Nikita Willy Galang Dana hingga Wendi Cagur Desak Status Bencana Nasional untuk Karhutla
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia sejak Juli 2026 memicu respons dari berbagai kalangan, termasuk figur publik. Nikita Willy, Wendi Cagur, dan Dennis Adishwara mengambil langkah berbeda-beda, mulai dari menggalang donasi, mendesak penetapan status bencana nasional, hingga turun ke jalan dalam aksi demonstrasi.
Nikita Willy menyoroti dampak kesehatan akibat kepungan asap pekat di kawasan Sumatra dan Kalimantan. Berdasarkan data yang ia paparkan, tercatat setidaknya 63.711 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menjangkiti anak dan balita di tujuh wilayah terdampak karhutla. Merespons kondisi tersebut, Nikita bersama suaminya menginisiasi penggalangan dana darurat pada Minggu (18/10). Ia memastikan seluruh bantuan akan disalurkan langsung oleh timnya ke lokasi bencana, dengan fokus penyaluran terdekat berada di kawasan Palangkaraya.
Sementara itu, komedian Wendi Cagur menyuarakan desakan agar pemerintah daerah maupun pusat segera menaikkan status krisis ini menjadi bencana nasional. Wendi juga menyampaikan kecurigaan bahwa kebakaran tersebut dipicu oleh kesengajaan manusia dan menuntut adanya hukuman setimpal bagi para pelaku jika dugaan itu terbukti. Ia meminta publik untuk terus bersuara di media sosial sampai penanganan karhutla benar-benar tuntas.
Langkah berbeda diambil oleh aktor Dennis Adishwara yang ikut berbaur bersama kerumunan mahasiswa dalam aksi demonstrasi pada 20 Oktober lalu. Aksi tersebut merupakan bagian dari unjuk rasa menyoroti kinerja dua tahun pemerintahan Prabowo dan Gibran. Melalui unggahan video singkat di media sosialnya, yang awalnya direkam sebagai pandangan mata untuk dikirimkan kepada sang ibu, Dennis turut mempublikasikan poster tuntutan berisi seruan "Padamkan apinya!"
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), masih terdapat 570,08 hektare lahan yang terbakar di enam provinsi prioritas. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luas lahan belum padam terbesar, yakni 389,39 ha dari total target penanganan 452,49 ha. Di Sumatera Selatan, sisa lahan yang belum padam mencapai 108,50 ha dari total 401,67 ha, sementara Jambi menyisakan 64,50 ha dari target 96,50 ha yang masih dalam proses pemadaman dan pendinginan.
Untuk wilayah lain dalam daftar prioritas BNPB, Kalimantan Selatan tersisa 7,50 ha dari target 58,45 ha, dan Kalimantan Barat menyisakan 0,19 ha dari total 11,92 ha. Seluruh lahan terdampak seluas 3,30 ha di Riau dilaporkan telah berhasil dipadamkan. Di luar enam provinsi prioritas tersebut, BNPB mencatat perkiraan total luas lahan terbakar mencapai 572,90 ha, dengan sekitar 107,77 ha telah padam dan 465,13 ha lainnya masih dalam penanganan intensif.


