Kemenkraf Dukung Artefak Keraton Jadi Produk Kreatif Bernilai Ekonomi Tinggi
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Kementerian Ekonomi Kreatif menyatakan kesiapan mengonversi aset warisan keraton, mulai dari artefak, busana adat, hingga legenda, menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya memastikan dukungan tersebut dalam Musyawarah Agung Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 15-18 Oktober.
Menurut keterangan Teuku, transformasi ini mencakup berbagai sektor, termasuk sinematografi dan produksi cendera mata. Ia meyakini langkah tersebut dapat mendongkrak perekonomian masyarakat sekaligus pendapatan negara di masa depan. Dukungan ini sejalan dengan penetapan Hari Kebudayaan pada 17 Oktober 2026 oleh Kementerian Kebudayaan.
Keraton di Indonesia dipandang sebagai cagar budaya hidup dan saujana budaya yang telah meletakkan fondasi sosial, hukum adat, serta kebudayaan bangsa sebelum kemerdekaan. Elemen warisan istana seperti seni kriya, pertunjukan, arsitektur, kuliner, hingga filsafat hidup dinilai menjadi modal budaya yang bisa ditransformasikan ke sektor pariwisata dan industri kreatif berdaya saing global.
Dukungan lintas kementerian turut menyertai inisiatif ini. Wakil Ketua DPD-RI Tamsil Linrung menyatakan kesiapan mengawal penerbitan Undang-Undang Perlindungan dan Pelestarian Keraton di Indonesia. Sementara itu, Kementerian Pariwisata melalui Asisten Deputi Bidang Pengembangan Produk Wisata Itok Parikesit menyatakan dukungan penuh terhadap penyusunan standar destinasi wisata sejarah dan budaya berbasis keraton berkelas internasional.
Untuk memperkuat kemandirian ekonomi komunitas adat, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyampaikan komitmen memfasilitasi pembentukan kelembagaan koperasi di setiap keraton. Komitmen ini dituangkan dalam nota kesepahaman antara Menteri Koperasi dan Ketua Umum FSKN.
Musyawarah Agung FSKN 2026 juga menghasilkan rencana integrasi budaya keraton Nusantara ke dalam agenda perayaan lima abad Jakarta pada 2027. Sinergi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut akan diwujudkan melalui Festival Keraton dan Masyarakat Adat ASEAN (FKMA) FSKN. Rangkaian acara musyawarah sendiri meliputi eksplorasi kawasan Kota Tua Jakarta, jamuan makan malam, hingga sarasehan nasional yang dihadiri para raja, sultan, menteri, pakar hukum, dan akademisi.
Ketua Umum FSKN YM Brigjen Pol (P) Mapparessa menyatakan organisasinya siap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melindungi dan melestarikan budaya keraton. Menurut Mapparessa, kolaborasi inklusif dengan pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat akan terus dilakukan demi kepentingan kedaulatan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.


